Aktif Semprot Disinfektan Meski Bukan Kampung Tangguh

414
Persiapan penyemprotan disinfektan di lingkungan RT.06 seminggu sekali. (Foto: Istimewa)

Kisah Sukses Ketua RT.06, RW.02, Sidoklumpuk, Sidoarjo

Namanya Koesdarmanto (56). Dia adalah Ketua RT 06, RW.02, Kelurahan Sidoklumpuk, Kecamatan Kota Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Pensiunan pengawas perbankan BRI Sidoarjo ini sukses memimpin RT yang berpenduduk 81 KK di era pandemi. Lima  warganya terpapar Covid-19 dan sembuh. Ketika RT lain surut melawan Covid-19, RT ini masih aktif semprot disinfektan seminggu sekali. Padahal  status RT bukan Kampung Tangguh. Berikut profile-nya.

SORE itu, Kamis, 15 Oktober 2020,  sekitar pukul 15.00, langit terlihat cerah  meski udara panas. Saya langkahkan kaki menuju ke rumah Koesdarmanto. Saya memanggilnya Pak Koes. Rumah saya ada di RT.05. Hanya 300 meter dari rumah Pak RT 06.

Sekitar lima menit saya sudah tiba di rumah Pak Koes. Halaman rumah terlihat asri. Ada 10 pot bunga besar yang didominasi oleh bunga Anturium. Ada juga lima pot bunga aglonema. Di rumah itu juga terlihat pohon mangga apel lebat berbuah. Disebut  buah mangga apel karena buahnya bulat-bulat seperti buah apel. Pohon sepertinya sudah waktunya dipanen.

Terlihat juga ada kucing berbulu coklat tebal rebahan di lantai. Kucing jenis Siam ini biasanya di dalam rumah, dimanja, diberi makanan kucing khusus. Tapi entah kenapa, kucing ini dibiarkan keluyuran seperti kucing kampung biasanya.

Di sisi kanan rumahnya ada rumah tua minimalis. Ini juga rumah Pak Koes yang akan diperuntukan bisnis kos-kosan di masa pensiun. Rumah sudah direnovasi old classic. Perabotan didominasi kayu jati berplitur coklat tua. Penataan perabotan cukup rapi dan unik. Gak salah, bila rumah itu kerap dibuat foto pre wedding tetangga.

Di rumah tua, terlihat Pak Koes tengah menemani dua pemuda yang  menyiapkan kegiatan semprotan disinfektan   di lingkungan RT 06.Padahal, kampung atau RT lain sudah mulai surut aksinya.

”Semprotan ini, kami lakukan seminggu sekali. Dananya swadaya warga RT 06 sendiri. Bila cairan disinfektan habis, kaleng terbang keliling ke rumah-rumah warga,” kata Pak Koes.

Pak Koes lantas mempersilahkan penulis menuju ke teras rumahnya. Dia ditemani dua pemuda yang ternyata Satgas Covid-19 RT.06.  Jhony Kristian, ketua Satgas dan seorang dari lima anggota, Leski. Kami berempat dengan tetap  memakai masker duduk di teras sambil menikmati kicauan burung dari rumah kuno di sebelahnya.

Pak Koes lantas menceritakan kisah sukses sebagai RT  di era pandemi. Lima warganya terpapar Covid-19 bisa sembuh. Dan, pihaknya tetap aktif melakukan semprotan disinfektan seminggu sekali di lingkungannya.

Ketua RT.06, Koesdarmanto

Dia mengaku menjabat RT 06 pada pertengahan 2018. Total warga RT 06, 81 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar warga, mata pencahariannya karyawan swasta dan ASN (Aparatur Sipil Negara).

Semula kehidupan warga RT 06 normal saja. Namun ketika memasuki masa pandemi Maret 2020, kehidupan tidak normal lagi. “Kami takut terpapar Covid-19. Kami saat itu, tidak ada program itu aksi penanganannya,” katanya

Pada Pertengahan April 2020, pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19, mengintruksikan ada PSBB (Pembatasan Skala Besar Bersyarat) Tahap Pertama. Para ketua RT se-Kelurahan Sidoklumpuk dikumpulkan di balai desa. Di situ, ada satgas pemkab Sidoarjo, kepolisian, kelurahan menjelaskan soal bahaya pandemi Covid-19 dan bagaimana memutus mata rantai sebarannya.

“Karena itu, perlu social distancing yakni menghindari kerumunan, menggunakan masker, dan cuci tangan. Selain itu, warga juga diintruksikan  stay di rumah. Pemkab Sidoarjo kemudian mengintruksikan untuk PSBB I. Keluar masuk warga di lingkungan RT harus dibatasi. Ditanyai bila keluar mau ke mana. Bila tidak ada keperluan urgent dilarang keluar rumah,” kata Pak Koes.

Pintu masuk utama RT.06 dijaga ketat siang malam saat masa PSBB 1,2 dan 3.

Maka, semua RT se-Kabupaten Sidoarjo termasuk RT.06 harus menerapkan PSBB lokal di lingkungan RT masing-masing. Sekilas info, Sidoarjo adalah  dataran delta (diapit Kali Surabaya dan Kali Porong) dengan luas 19.006 Ha, yakni 29,99 persen kawasan tambak di wilayah timur.

Sidoarjo terdiri 18 kecamatan, 31 kelurahan, dan 322 desa. Total penduduknya  sesuai data BPS Sidoarjo pada 2019, 2.266.533, terdiri 1.142.655 kelamin laki-laki dan 1.123.878 kelamin perempuan.

Penduduk terpadat di Kecamatan Waru, 240.674, diikuti Taman, 235.238, dan Sidoarjo Kota, 228.713. Diikuti, Candi, 168.779, Krian, 140.183, Gedangan, 134.787, dan Sukodono, 132.644. Daerah-daerah padat ini sebaran Covid-19 semula tinggi kini agak melandai.

Data terbaru sebaran Covid-19 Sidoarjo per 17 Oktober 2020, sesui data Provinsi Jawa Timur, total konfirmasi: 6.927, suspect, 4.132, sembuh, 6.080, dan meninggal, 455. Kini  Sidoarjo berjuang dari oranye menuju kuning.

Balik ke PSBB I, Sidoklumpuk yang terdiri 18 RT dan 6 RW masuk wilayah Kecamatan Kota Sidoarjo,  penduduk terpadat ketiga.   Jalan masuk ke RT.06, RW 02 Sidoklumpuk melalui  Jalan Untung Suropati,  Kartini, dan Gang Wisma. Dua jalan masuk diportal. Yang dibuka hanya Jalan masuk melalui Untung Suropati dan dijaga.

Pada PSBB I, Koes menurutnya menempatkan  enam penjaga yang terbagi tiga shift jaga. Setiap shift ada dua orang penjaga. Dan ada tambahan dua orang penjaga dari RT.05.

“Kami saat itu jaga pintu utama ke RT.06.  Warga yang masuk harus di-thermogun dan bermasker. Kami  pun pasang banner Wilayah Wajib Pakai Masker. Bila tidak bermasker, kami tolak.  Gojek bila antar barang harus sampai di pintu gerbang,” katanya.

Tak hanya itu, warga yang keluar masuk, ditanyai kepentingannya. Bila tidak urgent, kami sarankan  diam di rumah.  “Cek KTP. Bila ada warga datang dari luar kota, harus cek detail keperluan dan kesehatannya,” katanya.

Berapa biaya penjaga? ”Dana penjaga dari kelurahan. Pokoknya satu orang dapat honor 50.000 per shift. Total dana 150.000 per hari  (3 kali shift kerja).  Saat PSBB I, warga hanya dimintai kontribusi konsumsi untuk penjaga,” kata Pak Koes.

PSBB 1 DAN  2, EMPAT WARGA TERPAPAR COVID-19

Ketika masa PSBB I ini, baru ada masalah. Empat warga RT.06 terdiri 2 KK terpapar Covid-19 yang semuanya masih keluarga. Empat warga ini semula terpapar dari ibunya sendiri,  warga RT.04.

Si ibu ada penyakit bawaan. Sebelum masuk rumah sakit, dia tidak terpapar. Tapi ketika dirawat inap karena sakit  bawaannya, dia akhirnya terpapar.  Karena usianya sudah lanjut, si ibu akhirnya meninggal karena Covid.

Ketika empat warganya terpapar ini, Pak Koes mengaku memperoleh info dari Departemen Kesehatan, yakni Puskesmas Kecamatan Kota Sidoarjo dan pihak kelurahan.

Info berupa WA, empat warga terpapar Covid dan harus isolasi mandiri selama 14 hari. Pesan lainnya, warga tersebut jangan dikucilkan. Dibatasi komunikasinya dan maksimalkan memakai HP. Bila  RT ada partisipasi sumbang bahan makanan dan vitamin dipersilakan.

“Setelah baca info ini. Saya kaget dan ada ketakutan.Tapi kami tidak boleh ketakutan, waspada boleh. Bila takut, bisa imun turun,” katanya.

Pak Koes lantas menggelar rapat dengan pengurus dan warga untuk menggali dana swadaya untuk membeli bahan makanan untuk empat warganya terpapar Covid. ”Alhamdulilah, dana swadaya ada. Kami belikan bahan makanan setegah jadi. Telur, mie instant, beras, minyak goreng, teh, pasta gigi, sabun mandi, kopi sachet, buah-buahan, susu dan vitamin,” ujarnya.

Sembako swasdaya warga RT.06 untuk warga terpapar Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri.

Distribusi bantuan diserahkan Tim Satgas Covid-19 RT.06. Tim memberikan bantuan logistik swadaya itu di rumah empat warga terpapar. Mereka  berterima kasih sekali atas bantuan warga.

Warga RT memberikan bantuan logistik itu setiap lima hari sekali. Empat warga terpapar itu ternyata berlanjut  dirawat RSUD Sidoarjo selama dua periode isolasi. “Bantuan logistik tetap kami berikan sampai  tiga kali. Dan, swab terakhir, empat warga itu negatif dan bisa pulang. Ada surat keterangan sehat dari pihak rumah sakit juga,” katanya.

Namun, sedikit ada kendala juga. Ada satu warga sebut saja Tono termasuk keluarga empat warga terpapar yang agak bandel. Dia sebenarnya non reaktif, tapi perintah Puskesmas harus pengawasaan ketat dan isolasi mandiri. Tapi dia berontak karena harus bekerja dan membayar tagihan bank.

Tim satgas RT.06 ternyata mengawasi gerak-gerik Tono ini. Ketika dia mencoba keluar rumah, ada laporan  masuk ke HP Pak Koes, agar menghentikan Tono untuk tidak keluar. “Saya telpon dia agar jangan keluar rumah. Dia patuh,” kata Pak Koes.

Tapi lama kelamaan, Tono tidak bisa berdiam di rumah. Dia keluyuran di sekitar lingkungan RT.  Warga pun resah dan mau demo.”Tapi untungnya saya beri pengertian warga dan tidak jadi. Tono pun saya tegur agar kontrol diri karena masa karantina. Ketika 4 keluargnya pulang dari rumah sakit, Tono baru bisa bebas interaksi,” kata Pak Koes.

PSBB I pun berlanjut ke PSBB 2. Saat itu, honor para penjaga masih ditanggung pihak kelurahan. “Pihak RT hanya menyumbang konsumsi. Kami juga tetap aktif menjaga portal masuk RT. Dan, seminggu sekali tetap menerapkan penyemprotan disinfektan,” katanya

LAGI, 1 WARGA TERPAPAR DI PSBB 3

PSBB 2 berlanjut ke PSBB 3. Memasuki PSBB 3, satu warga lagi terpapar. Sebut saja Andi. Dia driver online. Istri dan dua anaknya non reaktif dan diungsikan ke rumah mertuanya. Andi juga karena tuntutan biaya keluarga terkadang harus keluar rumah malam hari untuk nge-driver online.

”Bila ada warga yang melarang, apa mau biayai keluarga saya. Saya beri masukan kepada pemerintah, bila warga isolasi mandiri selain diberi bantu makan seharusnya ada bantuan BLT, Rp.100 sampai 200 ribu per hari,” kata Andi dua hari sebelumnya. Andi menjalani isolasi mandiri sampai 1,5 bulan dan akhirnya sembuh dibuktikan surat keterangan sehat dari Puskesmas Kecamatan Kota Sidoarjo.

Pada masa PSBB 3, murni biayanya swadaya warga RT.06 sendiri. Warga iuran untuk membayar tiga penjaga portal total 150.000 per hari. Selain itu, warga juga  menyediakan konsumsi.  “Kami tidak keberatan meski biaya mandiri. Yang penting warga sehat semua,” katanya.

JAMAAH MUSHOLA SEDIA FREE SEMBAKO

Dalam era pandemi, jamaah mushola RT.06 juga diaktifkan. Ada sajian bahan sembako yang diletakkan di dekat kas mushola. Sajian itu terdiri mie instant, minyak goreng kecil, beras dikemasi 250 gram. Ada tulisan bila Anda membutuhkan silakan diambil. ”Namun program ini hanya berlangsung satu bulan,” kata Pak Koes yang putri tunggalnya duduk di Fakultas Kedokteran Unair di semester akhir ini.

Lingkungan RT juga pernah dimasuki tiga mahasiswa Unair untuk bagi-bagi hand sanitizer dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan bagi warga. ”Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini dan seharusnya diaktifkan lagi.Supaya warga terus sadar,” ujarnya.

Kini Sidoarjo bergerak ke zona kuning. Bisnis mulai menggeliat. Namun dia mengingatkan agar warga tidak lengah tapi tetap waspada karena Covid-19 masih mengancam.

”Saya  berharap warga tetap menerapkan protokol kesehatan. Tetap bermasker, hindari kerumunan, dan jangan lupa cuci tangan. Saya berdoa, agar Allah SWT segera mengangkat penyakit Covid-19 ini. Sehingga kita bisa beraktivitas normal kembali. Amin!,” ujarnya.

Di saat RT lain surut, warga RT 06 aktif lakukan penyemprotan disinfektan seminggu sekali.

Setelah perbincangan usai, Pak Koes ditemani dua pemuda Satgas Covid-19 RT.06 kemudian pamit meneruskan pekerjaannya melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan RT. Meski RT tidak berlabel Kampung Tangguh, tapi RT ini sudah Tangguh sejak dari akarnya. (Mochamad Makruf)*

 

*Penulis adalah Peraih FJPP (Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku), Dewan Pers-Satgas Covid-19.