Hadirkan Profesor Monash University, Bicara Soal Perubahan Ekonomi dan Sastra

204
Profesor Edward Buckingham, Professor and Program Director Monash Bussiness School, Jakarta (Monash University Australia)/photo/monashuni

Webinar Internasional ECKLL IX FS Unitomo  Kedua di Era Pandemi

Pandemi Covid19 memporak-porandakan tatanan ekonomi,  budaya dan kesusastraan di dunia. Ingin tahu seberapa jauh perubahan tatanan itu,  besok, ikuti webinar internasional  ECKLL IX Fakultas Sastra, Unversitas Dr Soetomo, Surabaya.  Siapa pemakalah intenasional yang hadir, dan apa materinya? Berikut laporannnya.

PANDEMI  Covid-19,   yang muncul kali pertama di Wuhan Hubei.China pada November 2019, mengakibatkan gangguan sosial dan ekonomi yang parah di seluruh dunia.  Termasuk resesi global terbesar sejak Depresi Hebat pada 1930-an.

Pandemi ini  menyebabkan kekurangan pasokan meluas. Dan, diperparah oleh pembelian panik (panic buying) produk-produk kesehatan, gangguan pertanian, dan beberapa negara kekurangan pangan.

Kondisi pandemi saat ini melandai.  Itu karena kampanye vaksinasi Covid di dunia dimulai sejak Desember 2020 dan terus digencarkan sampat saat ini. Angka vaksinasi dunia update dari data Vaccination Overview tertanggal 7 November 2021,  adalah  7,31 miliar doses yang diberikan, termasuk ada penambahan 24, 2 juta dosis.

Warga dunia memperoleh dosis pertama dan kedua (fully vaccinated), 3.14 miliar atau 40,2% dari populasi sudah fully vaccinated, termasuk ada penambahan 0, 1 persen.  Indonesia menempati urutan kelima dunia vaksinasi tertinggi. Indonesia, doses given,  205  juta, fully vaccinated, 79, 2 juta, prosentase 29,0 %.

Yang menarik untuk diamati dan diteliti di era pandemi, seberapa besar pandemi mengacak-acak tatanan budaya (culture) dan  kesusastraan (literature), dan bahasa (language)  di dunia.

Kali kedua di era pandemi, Fakultas Sastra (FS), Universitas Dr Soetomo (Unitomo),  Surabaya menggelar Enrichment of Career by Knowledge of Language and Literature (ECKLL) IX. Temanya  “Rewrite the World during and after Pandemic Signs in Language, Literature, and Culture” . Event ini digelar via webinar pada  Sabtu, 13 November 2021, mulai pukul 09.00.

Lima  pembicara internasional dari negara berbeda  hadir dalam event ini. Yang menarik salah satunya profesor dari  Monash Univesity, Melbourne  Australia,  Prof  Edward Buckingham.  Dia adalah Professor dan Program Director of  Monash University  Indonesia,  Monash Bussiness School.

Apa yang akan dipresentasikan  Profesor Edward?  “Social Change, Machiavelli and Establishing a New Order of Things: The Role of Literature in Creating a New Culture for Our Times. A brief glance at the history of Indonesian literature illustrates how social change is usually accompanied by a new wave of literary production that stands distinct from  previous works. In this keynote we will examine the economic causes of this renewal, based on earlier examples, and speculate on the emerging pandemic literature,” ujarnya.

Dia akan menampilkan judul  Perubahan Sosial, Machiavelli dan Penerapan Suaru Tatanan Baru  dari Semuanya. Peran Kesusastraan dalam Menciptakan Budaya Baru di Era Kami.

Menampilkan sekilas sejarah kesusastraan Indonesia menarasikan bagaimana perubahan sosial biasanya selalu dibarengi oleh gelombang baru produksi sastra yang biasanya berbeda dengan karya-karya sastra sebelumnya.

Dalam hal ini, dia  akan menganalisa sebab-sebab ekonomi dari pembaharuan tersebut didasarkan contoh contoh kasus sebelunya dan berspekulasi pada kemunculan literature pandemi

Empat pembicara lainnya, Tsutsumi Ryoichi, Ph.D. Associate Professor (Okayama University, Japan), Jin Hua, Ph.D. South China University of Technology, Cina), Juan Francisco Ugalde Sanchez, Ms.A. (Director and Content Creator on The Arbol Online Radio,  Ekuador), dan dari Indonesia, Dr. Asrif, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Indonesia).

“ Kami berharap ECKLL ke sembilan  ini,  mampu menyajikan referensi terupdate di era pandemi bagi para peneliti, dosen, guru dan masyarakat umum di bidang bahasa, sastra, dan budaya,” kata Dr Rindrah Kartiningsih, SS,  MSi, MPd,  Koordinator  Panitia ECKLL IX, FS Unitomo, kemarin.

‘’Event ini juga ingin mengetahui keterkaitan dan pengaruh pembelajaran dan pengajaran bahasa, sastra, dan budaya dalam masa pandemi Covid-19. Dan, memaparkan informasi teknologi pengajaran dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19,” ujar  Kusuma Wijaya, SS, MPd,  juga panitia ECKLL IX.

Event ini ternyata menarik bagi para peneliti, dosen, dan masyarakat Indonesia. Lebih dari 25 pemakalah (presenter)  Indonesia dan 100 peserta akan meramaikan event ini.

‘’Bagi masyarakat peminat bahasa, sastra, dan budaya silakan join pada webinar ECKLL ini. Peserta free alias gratis.  Ini event  Fakultas Inggris Unitomo setahun sekali.  Kalau tidak sekarang, kapan lagi?, “ ujar Kusuma.

Para pemakalah Indonesia  selain dari FS Unitomo juga dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, para dosen dari berbagai universitas dalam negeri, ,  alumni FS Unitomo, mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia.  ‘’Materi makalah yang akan ditampilkan di event ini langsung memperoleh ISBN. Ini salah satu daya tarik pemakalah,”  ujarnya.

Rindrah menambahkan event ini juga salah satu kontribusi FS Unitomo kepada masyarakat di era pandemi.  “Kami berkewajiban melaksanakan Tri Darma perguruan tinggi. Yakni  melalui kerjasama dengan berbagai pihak guna mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan dan perdamaian seluruh umat manusia di dunia, khususnya di Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya, ECKLL VIII  digelar pertama pada masa pandemi. Pada Kamis (19/11),  ECKLL VIII mengambil  tema “The Opportunities of Learning and Teaching Language, Literature and Culture in Covid 19 Pandemic”. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini dilaksanakan secara daring menggunakan zoom meeting sebagai media pertemuan.

Webinar ECKLL VIII FS Unitomo pertama di era pandemi pada 2020/photo/unitomoacid

Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta. Para pembicaranya  dari dalam maupun luar negeri d iantaranya Akh. Muzakki, Indonesia; Chris Barnes, Australia; Rokiah Paee, Malaysia; Mari Araki, Jepang dan Lydia Kieven, Bonn University, Jerman.

Keempatnya memberikan paparan mengenai isu yang sedang hangat terkait peluang belajar dan mengajar Bahasa, Sastra dan Budaya di tengah Pandemi Covid 19. (ruf)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here