Jatim Raih Penghargaan BNPB Tahun 2019

564
Pemprov Jawa Timur meraih Penghargaan Partisipasi Aktif dalam Penanggulangan Bencana Tahun 2019 yang diserahkan langsung oleh Kepala BNPB Doni Monardo kepada Kepala PelaksanaBPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Surabaya, Pijaronline.net – Langkah cepat, responsif, serta antisipatif Pemprov Jawa Timur dalam menanggulangi bencana berhasil mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Kali ini, Pemprov Jawa Timur meraih Penghargaan Partisipasi Aktif dalam Penanggulangan Bencana Tahun 2019. Penghargaan ini  diserahkan langsung oleh Kepala Badan Nasional Penghargaan Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.

Piagam penghargaan tersebut diterima oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Suban Wahyudiono yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Sentul International Convention Center Sentul City, Bogor, Selasa (4/2) siang.

Jawa Timur masuk dalam kategori Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Wilayah Barat yang memiliki keaktifan berpartisipasi dalam penanganan bencana.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah menyampaikan terima kasih kepada semua pihak termasuk bupati dan walikota, serta seluruh relawan yang tergabung dalam penangulangan bencana.

“Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja sama dan bantuan serta tenaganya selama ini membangun sinergi dan bahu-membahu menangulangi bencana secara cepat dan masif,” ujar orang nomor satu di Jatim saat melakukan kunjungan kerja di Makassar, Rabu (5/2).

Menurutnya, penghargaan ini diperuntukkan untuk semua masyarakat Jawa Timur dan seluruh relawan yang mempunyai kepekaan yang sangat tinggi. Sehingga bencana alam  yang terjadi  bisa ditanggulangi dan ditangani secara cepat dan masif.

Sejak awal pelantikan, dirinya berkomitmen untuk meningkatkan ketangguhan dalam menghadapi bencana alam di Jawa Timur. Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jatim tahun 2019-2024 secara khusus dimasukkan dalam Indeks Kinerja Utama (IKU). Salah satunya  dengan  mencantumkan upaya pengurangan risiko bencana dan kegiatan penanggulangan bencana kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di Jawa Timur.

Selain itu, mantan Mensos  di era Presiden Jokowi itu K meminta kepada OPD agar penanganan bencana di wilayahnya dilakukan secara komprehensif. Salah satunya memperkuat konektivitas antar OPD dan instansi lainnya  agar responnya bisa lebih cepat dalam menangani bencana.

“Kita harus melakukan  respon cepat menangani bencana. Koordinasi intensif secara vertikal horisontal  harus bisa mempercepat  koneksitas  OPD-OPD  dengan berbagai instansi terkait. Khususnya pemerintah daerah dan  TNI- Polri,” kata Khofifah.

Dijelaskan, OPD yang sangat berperan langsung dalam hal tanggap bencana, yaitu BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan Dinas PU. Sedangkan instansi lain yang juga terkait, yakni TNI, Polri, SAR, PMI, Basarnas, serta Kementerian PU yang ada di wilayah Jawa Timur serta segenap relawan kebencanaan.

Menurutnya, sekecil apapun bencana yang terjadi harus segera ditangani bersama-sama. Mengingat kebencanaan memiliki risiko terjadinya kemiskinan.  Inilah yang juga diimplementasikan dalam kebijakan penanggulangan bencana sebagai komitmen pemerintah daerah di Jawa Timur.

Dikatakannya, di Jawa Timur pun telah mengimplementasikan adopsi kebijakan pemerintah pusat. Di antaranya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur tentang Tata Ruang Wilayah dengan memperhatikan Peta Rawan Bencana; Forum Komunikasi Pengurangan Risiko Bencana (FKPRB) langsung di bawah arahan gubernur dan wakil gubernur. Hal ini untuk meningkatkan sinergitas pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media (pentahelix). FKPRB melakukan koordinasi setiap triwulan.

Selain itu juga Sistem Peringatan Dini yang Terpadu Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat; edukasi bencana interaktif melalui Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina); Apel Siaga Bencana yang diikuti oleh semua kepala daerah dan OPD di tingkat kabupaten-kota dan provinsi serta pegiat kebencanaan, yang dilanjutkan dengan simulasi latihan penanganan bencana. (dan)