Kunci Survive: Vaksin Kedua dan Berdoa

350

Hadapi Second Wave Covid-19

Oleh: Mochamad Makruf

SERANGAN Covid-19 dengan varian Delta menggila. Kunci bisa survive saat ini, dua kali vaksin dan berdoa. Ya..vaksin. Segeralah Anda vaksin bila belum terlambat. Pemerintah daerah harus gerak cepat mem-vaksin warganya. Gelar gerakan vaksinasi massal tanpa syarat. Jangan sampai birokrasi atau persyaratan vaksin menghambat kecepatan vaksinasi itu sendiri. Percayalah.

Saat ini kejar-kejaran antara kecepatan vaksinasi Covid dan kasus mati terpapar Covid. Semakin banyak orang divaksin dan terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok),  maka angka mati Covid bisa dikurangi. Namun, bila vaksinasi melamban, mati Covid semakin tinggi.

Data Covid terbaru di-release dari Data Covid-19 worldometers.info Jumat (16/7) pukul,11.13 GMT,  total kasus Covid dunia, 189.864.245, kematian, 4.085.702, dan sembuh,173.235.076

Dari total kasus Covid dunia, Indonesia menempati ranking ke-15 dengan total 2.780.803, kasus baru, 54.000  kematian, 1.205 dan sembuh, 28.079. Tragisnya,  angka kematian baru  Indonesia tersebut   tertinggi di antara 220 negara.  Angka kematian baru tertinggi kedua yakni Rusia, 799.

Sedangkan, trend weekly kasus Covid menurut data worldoeters, Indonesia ranking pertama cases in the last 7 days (kasus 7 hari terakhir), 309.015, kedua, Brasil, 299.732, ketiga India, 273.767.

Total kasus Covid Dunia, Amerika Serikat menempat,  34.887.155, kedua India, 31.026.828 dan ada penambahan kasus baru 954, dan ketiga, Brasil, 19.262.518. Rusia sendiri menempati ranking empat, 5.907.999, dengan penambahan kasus baru 25.705 dan angka kematian, 799.

Menariknya, Malaysia yang sudah lockdown sejak 5 Mei 2021 dan menggelontorkan dana 1,3 Kuadriliun untuk BLT warganya (Juli-Des 2021), menempati ranking ke-32. Total kasusnya, 893.323, dengan tambah kasus baru 12.541 dan angka kematian 115  (Baca www.cowasjp.com, Second Wave Covid-19 di Malaysia, Lockdown, Kucurkan 1,3 Kuadriliun Untuk BLT Warga).

Apa Indonesia perlu lockdown? Tapi harus siapkan BLT dulu itu semua warga–bukan BLT hanya untuk warga miskin atau warga berdampak saja. Tapi semua warga.  Covid tidak kenal kaya dan miskin. Semua warga terkena dampaknya. Warga Malaysia dengan penghasilan 35 juta per bulan boleh ajukan BLT.  Harus ada pengajuan. Tapi bagi warga penghasilan Rp 35 juta ke bawah secara otomatis sudah disubsidi pemerintah.

Harus ada gerak cepat dalam vaksinasi. Ini bukan uji nyali lagi tapi uji nyawa. Jangan sampai usaha vaksinasi terhambat gara-gara birokrasi. Untuk vaksinasi, harus daftar dulu melalui RT, RW atau Kelurahan. Sebaiknya, syaratnya cukup tunjukan KTP, KIA atau KK atau keterangan domisili, vaksinasi bisa dilakukan. Tanpa mbulet.

Itu seperti dilakukan Pemkot Surabaya. Gerakan 20.000 vaksinasi massal untuk usia 18 tahun ke atas di GOR 10 Nopember (G10N) patut diacungi jempol. Tinggal tunjukan KTP atau keterangan domisili Surabaya, warga langsung divaksin. Simpel.  Tak hanya itu, Polrestabes Surabaya juga melakukan hal sama. Datang tunjukan KTP atau keterangan domisili, langsung nyess…vaksin.

Karena aktif gerakan vaksinasi massal, Surabaya mulai kehabisan stok vaksin. Pada Senin (12/7), Surabaya mengajukan 1 juta vaksin lagi ke Kementerian Kesehatan. Warga Surabaya puas. Dan, banyak warga Sidoarjo iri terhadap aksi Surabaya. Mereka ingin pindah saja ke Surabaya.

PERANGI COVID PERLU BIROKRASI?

Sidoarjo sepertinya meniru vaksinasi massal seperti Surabaya. Tapi tampaknya masih ada syarat dan ketentuan berlaku. Vaksinasi massal dibagi per kecamatan. Tengok saja pengumuman vaksin massal pada 10 Juli 2021.

“Gelar 1000 Vaksin Covid -19 Bagi Warga Sidoarjo secara bertahap per-kecamatan. Sabtu, 10 Juli 2021, pukul 07.00 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Warga Kecamatan Sidoarjo 500 orang. Dan Kecamatan Candi, 500 orang. Silakan Daftar ke Desa/Kelurahan Masing-Masing selanjutnya akan dikoordinir kecamatan sesuai kuota yang telah ditentukan”

Pengumuman ini bisa dicek ig.pemkabsidoarjo. Sebagian besar komentar tidak nyaman dengan kebijakan vaksin massal. Fajarwahyuhidaya:Coba seperti Surabaya jumlah vaksin banyak jadi tanpa harus deftar ke desa. arianmurty17:Kuota sdh penuh…Baru di share. firasat_adi: Lek carane ngene alamat ndak keduman kuota,kalah kr kroni-2 perangkat. lucyandri5: Sidoarjo ribetnya minta ampun…daftar vaksin aja ke desa dulu. Beda sama sby..skrg yg sidoarjo pada daftar ke sby semua.

Vaksinasi massal di GOR Sidoarjo pada 10 Juli 2021/foto/inf-sda

Tulisan ini memberi masukan baik.  Bila kita mau perang dengan Covid harus totalitas. Buka lebar-lebar kran vaksinasi. Hanya tunjukan KTP, KIA, KK dan keterangan domisili datang ke lokasi dan vaksin. Selesai.

Ada kabar terbaru, Polresta Sidoarjo menggelar vaksinasi Covid-19 secara door to door ke rumah warga di Desa Bluru Kidul, Sidoarjo, pada Rabu (14/7). Ini untuk percepatan vaksinasi.  Selain itu, sebelumya di desa ini ada 94 terpapar Covid dan 15 meninggal dunia.

Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro pihaknya mengupayakan ada 200 dosis vaksin perhari dalam program  vaksinasi  door to door. Program ini juga menunjang tercapainya target Polresta Sidoarjo yakni 1.000 dosis vaksin perhari. .

HERD IMMUNITY SIDOARJO

Sekarang kita hitung berapa lama Sidoarjo menuju herd immunity. Salah satu target PPKM Darurat ini  pada akhir Agustus vaksinasi sudah capai 70 persen. Prosentase 70 persen dari total warga adalah angka ke herd immunity.

Pengumuman vaksinasi massal Covid-19 di GOR Sidoarjo.

Total penduduk Sidoarjo adalah 2.082.801 dan 70 persennya adalah 1.457.960. Bila dua kali vaksin dibutuhkan 2,9 atau 2.915.921 dosis. Bila 1,4 juta dibagi 6000 (30 hari x 200 vaksin), membutuhkan 233 hari atau 8 bulan vaksin pertama tuntas. Herd immunity tercapai di Sidoarjo, 16 bulan ke depan. Itu bila vaksinasi per hari 200 dosis dan full selama 30 hari. Jadi butuh kerja keras vaksinasi dan target harian dinaikan. Jangan pakai birokrasi mbulet.

HERD IMMUNITY INDONESIA 11 BULAN LAGI?

Kapan herd immunity Indonesia tercapai? Bila 70 persen jumlah penduduk Indonesia sudah di-vaksin. Berapa 70  persen penduduk Indonesia?  Sekitar 189 juta penduduk. Herd immunity bisa dicapai bila 189 juta penduduk itu  sudah di-vaksin dosis kedua.

Dengan kata lain, total dosis vaksin yang dimiliki Indonesia harus ada 378 juta dosis untuk minimal 189 juta orang.  Pada Minggu (20/6) Indonesia, menurut Presiden Joko Widodo baru menerima  kiriman vaksin tahap ke-17 dengan   104.728.400 dosis vaksin dari Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm.  Bila vaksin mulai Februari ke Juni (5 bulan) masih masuk 100 juta–maka untuk masuk 300 juta butuh 11 bulan lagi.

Data terbaru dari covid19.go.id, pada 13 Juli 2021, Indonesia menerima kedatangan 2 jenis vaksin COVID-19, yakni sebanyak 1.408.000 dosis vaksin Sinopharm dan 3.476.400 dosis vaksin AstraZeneca.

Vaksin Sinopharm akan digunakan dalam skema Vaksin Gotong Royong. Sedangkan, AstraZeneca akan digunakan untuk vaksin umum free.  Dengan kedatangan vaksin tahap ke-22 dan 23,  total Indonesia mendatangkan 137.611.540 dosis. Baik itu dalam bentuk bulk maupun vaksin jadi

Pemerintah menambah target sasaran vaksinasi COVID-19 dari 181,5 juta orang menjadi 208.265.720 orang dan terus mengupayakan ketersediaan vaksin COVID-19 bagi masyarakat Indonesia.

VAKSIN KETIGA

Indonesia juga menerima kedatangan sekitar 3juta dosis vaksin Moderna pada 11 Juli 2021. Vaksin ini akan diprioritaskan bagi tenaga kesehatan sebagai vaksinasi tahap ke-3 (booster), selain digunakan untuk masyarakat umum.

Dan, upaya  ini  dilakukan pemerintah untuk mendukung dan menjaga tenaga kesehatan yang mengalami tekanan luar biasa pada gelombang kedua pandemi COVID-19 di Indonesia.

IMIGRASI  TELEDOR?

Pada Februari sampai Juni 2021, orang lanjut usia  ogah-ogahan untuk di-vaksin. Namun memasuki Juli, sikap itu akhirnya berakhir. Karena seiring itu virus bermutasi, varian Delta pun muncul pada April-Mei 2021.

Pada April dan Mei 2021 terjadi tsunami Covid di India.  Pada akhir April banyak orang India kabur keluar negeri termasuk ke Indonesia. Saat itu, tercatat 132 WN India masuk Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta menggunakan pesawat carteran (Kompas.com (9/7), Saat Orang India ke Indonesia dengan Pesawat carter Hingga Varian Delta Mendominasi).

Ini contoh keleledoran Imigrasi Indonesia yang begitu gampang memasukan orang dari luar. Ini juga mungkin karena orang-orang Kementerian Luar Negeri atau Imigrasi kurang update berita. Di India ada tsunami Covid, Imigrasi Indonesia santai saja memasukan WN India. Tapi setelah itu, mereka melarang WN India masuk Indonesia. Terlambat.

Ratusan WN India sebagian besar ibu rumah tangga dan anak-anak. Mereka hanya memiliki kartu izin tinggal terbatas (Kitas). Namun, usai kedatangan itu, Covid Varian Delta atau B1.6172 (yang juga ditemukan di India)  mendominasi sebaran Covid di Indonesia selain varian lain, Alpha, Beta, Eta, Iota atau pun Kappa.

Awalnya, varian Delta ditemukan di Jakarta kemudian menyebar ke Kudus, Bangkalan dan ke seluruh Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Pada 6 Juli, tercatat ada 436 kasus varian Delta di Indonesia.

Begitu cepat sebaran virus ini, maka banyak korban Covid tumbang. Di Jawa Timur, awalnya di Bangkalan. Kemudian terjadi penyekatan di Jembatan Suramadu. Namun, Surabaya akhirnya kebobolan juga.  Rumah sakit di Surabaya dan Sidoarjo penuh pasien Covid. RS William Booth pun lockdown pada 28 Juni 2021. Selain pasien Covid full, para dokter juga terpapar.

Maka pemerintah memberlakukan PPKM Darurat Jawa dan Bali pada 3 Juli 2021. Permintaan vaksin melonjak tajam.  Masyarakat melihat sendiri bahwa Covid varian delta dari India menjangkiti begitu cepat. Orang terinfeksi berbicara tanpa masker hanya dalam jarak dua meter, yang diajak bicara terinfeksi. Karena itu ada anjuran memakai masker dobel.

Di WA-WA group sudah viral atau tersebar bagaimana mobil-mobil ambulance jenazah Covid di komplek Pemakaman Umum Keputih Surabaya antre menurunkan jenazah untuk dimakamkan. Malahan ada seorang sopir ambulance lapor via Radio Suara Surabaya (SS), sempat terjadi serobotan menurunkan jenazah untuk dimakamkan.  Suatu pemandangan yang mengerikan.

Di Sidoarjo pun juga. Taman Pemakaman Umum (TPU) Delta Praloyo yang pada puncak gelombang pertama Covid pada Oktober, petugas makam bisa memakamkan jenazah Covid maksimal 6. Namun di serangan kedua Covid varia Delta, pada Juli ini, sehari bisa 20 jenazah. Lima penggali kubur manual pun kewalahan. Beda dengan Surabaya yang sudah menggunakan bego.

DUA KALI VAKSIN BISA SELAMAT

Ada dua teman penulis sudah vaksin dua kali dan terpapar Covid. Namun pada akhirnya keduanya bai-baik saja sampai keluar dari isolasi mandiri. Tidak ada gangguan pernafasan. Hasil rotgen pada paru-parunya bersih dan tidak berkabut.

Teman itu Errika (49), warga Pondok Gede, Bekasi. Dia seorang guru SDK swasta di Bekasi. Dia diduga terpapar Covid dari penjual sayur keliling di depan rumahnya. Karena dia berada di rumah terus untuk daring para siswanya. Dia keluar hanya membeli sayur saja dan terpapar pada 25 atau 26  Juni.

Pada 2 Juli adalah hari-keenam isolasi mandiri. Untung dia sudah vaksin Sinovac kedua pada akhir Maret. ”Saya gemuk dan punya darah tinggi. Bila belum vaksin bisa parah. Untung saya sudah vaksin kedua,” ujarnya yang kini proses pemulihan.

Teman lainnya Prily (45), warga Tuban. Pada 25 Juni 2021, dia menghadiri ulang tahun di rumah temannya. Di situ sudah berkumpul 15 orang temannya emak-emak. Mereka makan-makan, bercerita, bersenda gurau tanpa protokol kesehatan ketat. Tak sampai seminggu setelah acara itu, tenggorokannya sakit, badannya meriang dan pilek.

Dia merasa terpapar Covid. Dia memutuskan isolasi mandiri di rumah. Dia minum paratusin dan baquinor, becom C, dan minum perasan jeruk nipis, madu dan garam. Kini kondisinya sudah membaik. Hanya suaminya masih terbaring juga isoman di rumah. Tapi hasil rotgen, semuanya bersih.

Apa sudah vaksin? ”Kami sudah menjalani vaksin kedua dari kantor,” ujar Prily yang suaminya adalah salah satu staf pimpinan di PT Telkom yang pernah berdinas di Surabaya dan kini di Babat.  Bila belum vaksin kedua, lain lagi cerita. Karena itu, mari segera vaksin.(*)

Penulis adalah Wartawan Madya PWI-Dewan Pers

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here