Lebih Heboh Hoax-nya, Vaksin Covid-19 Hanya 10 Detik

1063
Dokter Berlian Aniek Herlina ketika menyuntikan vaksin Covid-19 kepada seorang warga di klinik/foto/makruf/pijaronline.net.

Oleh: Mochamad Makruf

JUMAT, (11/6/21), suasana klinik Layar Husada, Jalan Sukorejo No. 59, Buduran, cukup ramai para pengunjung. Mobil dan motor terparkir di depan dan belakang klinik. Pagi itu, ternyata di klinik ada vaksinasi Covid-19. Dan, dijadwalkan ada 104 pengunjung yang divaksin.

Meski ramai tapi mereka tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes). Memakai masker dan duduk di ruang tunggu pun berjarak sekitar setengah meter satu sama lain.

Para pengunjung itu  sebagian besar  berusia lanjut minimal 50 tahun ke atas. Namun, ada beberapa yang berusia muda. Itu karena klinik menerapkan program, dua usia lanjut bonus vaksin satu usia muda.

Klinik Layar Husada di Jalan Sukorejo No 59, Buduran yang aktif memberikan vaksin Covid-19 sampai tiga bulan ke depan/foto/makruf/pijaronline.net.

Jadi bila Anda usia muda dan ingin vaksin Covid-19 datang saja ke Klinik Layar Husada. Syaratnya Anda harus membawa dua orang usia lanjut minimal 50 tahun ke atas dan ber-KTP Sidoarjo.

”Ini merupakan program klinik kami untuk percepatan vaksin bagi usia lanjut dan menyasar anak muda,” kata dr Berlian Aniek Herlina, MPsi, dokter yang juga pemilik Klinik Layar Husada.

Pagi itu, para pengunjung yang tiba di klinik langsung diminta mengisi dua lembar formulir pendaftaran. Satu formulir kecil sebagai kartu vaksinasi berisi nama alamat, NIK dan nomor HP. Di belakang kartu itu ada tabel yang nanti diisi oleh pihak klinik, jadwal vaksin kedua.

”Kami tidak mengingatkan lagi jadwal vaksin kedua. Cukup lihat di kartu vaksin itu saja,” jelas dr Berlian.

Pendaftar juga harus mengisi nomor HP yang benar. Karena nomor HP itu untuk digunakan untuk pengiriman sertifikat sudah menjalani vaksinasi Covid tahap pertama dan kedua dari Kementerian Kesehatan RI. ”Tulis nomor HP bapak dan ibu yang benar. Jangan salah,’ tegasnya dr Berlian.

Setelah mengisi dua formulir tersebut, kartu vaksin atau formulir kecil diserahkan ke perawat. Sedangkan, formulir besar ukuran kertas A4 dibawa pengunjung. Formulir besar ini berisi pertanyaaan, apa sebelumnya ada riwayat penyakit dan  hasil tensi darah.

Pengunjung kemudian mengambil nomor urut. Nomor urut hari itu 104. Jadi cukup padat juga antreannya. Tapi mereka tetap menerapkan prokes. Jaga jarak dan bermasker.

Salah satu pengunjung nama Valiant Alfarizy. Dia memperoleh nomor urut 14. Dia berusia 21 tahun dan  bisa vaksin karena sebelumnya membawa dua orang usia lanjut.”Mumpung kuliah masih longgar,” ujarnya

Valiant mengaku mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Negeri Jember (Unej) semester 7.  Dia kini tengah menyusup skripsi dua bab akhir. Begitu ada kabar ada program vaksinasi anak muda dan membawa dua orang usia lanjut, dia sangat senang.

”Saya langsung dari Jember ke Sidoarjo pada Kamis(10/6/21) malam. Saya sangat ingin divaksin. Karena,  Teman-teman kuliah yang asal Surabaya sudah tuntas dua kali vaksin saya belum. Begitu papa saya memberi info menawari saya vaksin Covid, saya ok saja,” jawabnya semangat.

Valiant mengaku setiap perjalanan dari Sidoarjo ke Jember dan sebaliknya dari Jember ke Sidoarjo, dirinya mengaku lebih suka naik kereta api.

”Karena lebih aman dari antisipasi Covid-19. Para penumpang harus menjalani rapid test   sehari sebelum keberangkatan. Jadi penumpang harus beli tiket dulu, baru ambil test G Nose,” katanya.

Dulu, menurutnya ketika biaya pulang pergi sedikit memberatkan. Tiket kereta 80 ribu tapi rapid test antigen 105 ribu. Jadi terkadang lebih mahal rapid test dibanding tiketnya. ”Tapi bagi saya itu tidak masalah.  Yang terpenting saya dan  para penumpang lainnya terhindar dari Covid,” ujarnya.

Setelah test G Nose diberlakukan, biayanya pulang pergi Sidoarjo-Jember  lebih ringan. Biaya G Nose hanya 30 ribu dan tiket kereta api dia terkadang dapat 29 ribu. Jadi lebih ringan.

Dia mengaku  pulang ke Sidoarjo dua sampai tiga bulan sekali. “Karena keperluan vaksin covid-19 saya sekitar sebulan di rumah. Karena nunggu panggilan dari dosen pembimbing untuk perbaikan skripsi,” jelasnya.

Dia berharap, vaksinasi covid terhadapnya lancar. ”Semoga lancar. Dan, saya sangat senang sekali bila sudah di-vaksin. Mumpung gratis. Dan vaksinnya Sinovac lagi,” katanya.

Sekitar pukul 09.00, antrean nomor 1 sampai 5 dipanggil.  Ketika dipanggil, pengunjung ke meja perawat. Dia menyerahkan formulir besar. Setelah itu pengunjung ditensi darah. Bila tensi menunjukan angka 200, maka pengunjung harus mundur dulu dari antren. Dia diminta menenangkan diri agar tensi darahnya turun balik ke normal yakni 120/80

Kebetulan hari itu hanya satu atau dua orang yang tensi di angka 200. Namun, mereka bisa menurunkan tensinya. Pelaksanaan vaksinasi Covid pun lancar.

Termasuk vaksinasi pada Valiant. Dia menjalani tensi darah dan hasilnya 125/60. Masuk kategori normal. Dia kemudian divaksin oleh dr Berlian. Hanya sekitar 1 menit, pelaksanaan vaksid itu selesai. ”Singkat kan. Gini kok ada orang yang menolak divaksin,” kata dr Berlian.

Usai vaksin, para pengunjung diminta tetap berada di klinik selama 15 menit karena ada keluhan  bisa diatasi. Setelah 15 menit, tidak ada keluhan, para pengunjung mendapatkan kartu kecil di baliknya ada jadwal vaksin kedua pada 9 Juli 2021 atau 28 hari.

Apa perbedaan waktu vaksin kedua antara Sinovac dan Aztra Zaneta? ‘’Bila Sinovac membutuhkan waktu 28 hari untuk vaksin kedua. Sedangkan, Astra Zaneta membutuhkan waktu 12 minggu untuk vaksin kedua.  Keduanya juga sama-sama bagus dan jangan disimpulkan yang macam-macam,” jelas dr Berlian.

Bila ada orang sebelumnya terkena Covid-19 tiga bulan lalu, apa perlu di-vaksin? “Perlu. Karena masa tiga bulan itu kadar antibodi tinggi. Tapi selepas tiga bulan, kadar anti body turun dan harus divaksin. Karena itu meski sudah di-vaksin, kita tetap terapkan protokol kesehatan,” jelas dr Berlian.

Para pengunjung  yang sudah di-vaksin tak lama juga memperoleh SMS dari nomor 1199 yang isinya link sertifikat vaksin Covid-19 tahap pertama. Sertifikat itu bisa diprint dan disimpan bila diperlukan. Jadi ayo segera vaksin. Lebih heboh berita hoax-nya dibanding menjalani vaksin itu sendiri sekitar 10 detik.(*)

*Penulis Wartawan Madya dan Peserta FJPP (Fellowship Jurnalis Perubahan Perilaku) PWI-Dewan Pers, 2021.