Pandemi, Alumni FK 85 Unair Sidoarjo Gelar Baksos untuk Siswa Difabel

288
Para alumni FK 85 Unair ketika baksos kedua untuk siswa difabel di SMAN Gedangan/photo/istimewa.

Sidoarjo-Pijaronline.net-Meski masa pandemi, terus berbagi. Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) ke-108, Ikatan Alumni (IKA) Angkatan 85 FK (FK 85)  Unair  Sidoarjo  menggelar bakti sosial (baksos) bertemakan Sahabat Difabel, Bangkit dan Berkolaborasi untuk Negeri.

Mereka mengunjungi dua sekolah, yakni Sekolah Luar Biasa (SLB) Aissyiyah Tulangan dan SMAN I Gedangan, Raya Sedati KM2,yang membuka kelas inklusi, Kamis (9/12) pagi.

Dalam baksos ini, alumni FK 85 diwakili lima dokter. Mereka adalah dr Berlian Aniek Herlina MPsi, dr Liza Amalia MM, dr Anita Widuri , dr Ni Nyoman Karmawati, dan dr Siti Zaenab Kawiarsih.

Menariknya, ketika mendatangi dua sekolah ini, baksos yang diketuai dr Berlian memberikan bantuan sembako dan alat-alat peraga sekolah.

Kali pertama, para alumni FK 85 mendatangi Sekolah Luar Biasa (SLB) Aissyiyah di Tulangan. Rombongan tiba di sekolah pukul 09.00. Mereka disambut meriah anak-anak SLB. Mungkin, mereka jarang dikunjungi para pemerhati difabel.

Ketua PC  Aissyiyah Tulangan, Hj Khaula menyatakan berterima kasih sekali atas kunjungan alumni FK 85 Unair dan memperhatikan perkembangan pembelajaran di SLB Aissyiyah Tulangan. ”Semoga kunjungan ini tidak sampai di sini saja. Ada silaturahim berkelanjutan,” ujarnya.

Para alumni FK 85 Unair Sidoarjo saat baksos pertama di SLB Aissyiyah Tulangan/photo/istimewa.

Dokter Berlian dalam sambutannya menekankan pentingnya terus menerapkan protokol kesehatan. ”Protokol kesehatan  harus terus dijalankan dalam sikap dan prilaku.  Jangan sampai lengah pada Covid-19″ tegas dr Berlian yang aktif kegiatan vaksinasi warga Sidoarjo bersama IKA Unair PC Sidoarjo.

”Bantuan alat peraga dari kami ini tidak seberapa. Tapi kami berharap, bantuan ini bisa membantu kemandirian dan kesuksesan siswa  dalam belajar. Mengapa difabel? Selama ini keberadaan mereka jarang memperoleh perhatian. Kalau tidak kita, siapa lagi,” tambahnya.

SLB Aissyisyah sendiri  memiliki 70 siswa dan 12 guru. Yang menarik para siswa yang belajar di sekolah ini gratis. Pendanaan sekolah dibantu donatur dan bantuan pemerintah baik pemda maupun pusat.

Bantuan alat peraga pendidikan untuk SLB Aissyiyah antara lain meja U, ular tangga lantai, cermin besar untuk latihan berbicara tuna rungu,  sarung tangan media dongeng, alat pengukur tinggi badan, kursi roda, dan Al-Quran.  Acara di sekolah berakhir pukul 11.00.

Selanjutnya, rombongan alumni  FK 85 bergerak ke SMAN Gedangan di Jalan Raya Sedati KM 2, Wedi, Gedangan. Sekitar pukul 12.00, mereka tiba di sekolah dan  disambut antusias para siswa inklusi ini. Pihak sekolah menyatakan berterima kasih atas baksos FK Unair 85 Sidoarjo ini.

Dalam sambutannya dr Berlian juga menyampaikan sedikit motivasi kepada para siswa yang juga diterjemahkan dengan bahasa isyarat. ”Setiap orang baik itu difabel atau normal berhak sukses. Jadi jangan berputus asa, terus  berkreasi,” jelasnya.

Menariknya banyak siswa difabel berprestasi di SMAN Gedangan  ini. Ada siswa yang juara bela diri, juara design grafis, dan juara menulis cerita pendek. Bahkan siswa difabel dari SMAN Gedangan banyak yang diterima di PTN.

Juga ada yang berprestasi di dunia internasional. Salah satunya  Nanda Putra Negara, siswa kelas XI. Dia memperoleh medali emas pada kejuaraan 2nd ITKF Afro Asia Special Needs Category  tahun lalu.

Ketika acara baksos ini, ada siswa tuna rungu mencoba bertanya dan perkenalkan diri dengan bahasa isyarat. Mereka juga menyatakan cita-citanya. Ada  siswa yang ingin menjadi dokter,ahli teknik,perenang dan photographer.

Siswi inklusi SMAN Gedangan begitu gembira mencoba trampolin sumbangan baksos Alumni FK 85 Unair Sidoarjo/photo/istimewa.

Bantuan alat peraga untuk sekolah ini antara lain trampolin. Trampolin langsung dipasang di ruangannya. Mereka antusias  mencoba trampolin dan terlihat gembira. Selain alat peraga trampolin, para siswa inklusi juga diberi sembako saat pulang.

Ketika belajar, para siswa inklusi ini bersama dengan siswa reguler. Namun mereka ada 4 guru pendamping yang siap membantu kelancaran proses belajarnya. Acara baksos di sekolah ini berakhir pukul 14.00. (ruf)