Penanganan Bencana Butuh Keterlibatan Banyak Pihak

9
SPAB yang diadakan di SMKN 1 Kendit, Situbondo, melibatkan warga sekolah.

PijarOnline.Net, Situbondo – Penangangan bencana tak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Perlu dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, penanganan bencana harus melibatkan multipihak atau multihelix.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (Kabid PK) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Bige Agus Wahjuono saat membuka Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMKN 1 Kendit, Situbondo.

Dia mengingatkan bahwa kegiatan SPAB ini adalah salah satu upaya mitigasi bencana. Oleh karena itu, penanganan bencana melibatkan multihelix. Sebelumnya, ada 3 pilar penanganan bencana, yakni pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Kemudian berkembang menjadi pentahelix.

“Harapannya  para  fasilitator dari Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur dapat mentranfer ilmu kebencanaannya. Sehingga memberikan pemahaman pada peserta apa yang harus dilakukan saat kejadian bencana,” jelasnya.

Sekolah yang berada di Jalan Arjokusmo No.02, Desa-Kecamatan Kendit ini mengerahkan para guru, siswa, dan tenaga kependidikan untuk mengikuti pelatihan berupa teori dan praktik selama dua hari. Setidaknya ada seratus peserta yang ikut SPAB ini.

Di hari kedua diadakan simulasi gempa bumi dan pemadaman. Juga diberikan materi tambahan tentang kebocoran tabung elpiji, sehingga siswa dan guru tahu bagaimana cara penanganan terhadap tabung elpiji yang bocor.

SPAB di SMKN 1 Kendit ini diadakan selama 2 hari, yakni Senin-Selasa, 26-27 Februari 2024. Sedangkan fasilitator yang terlibat adalah Rahmad Subekti Kimiawan, Andreas Eko Muljanto, dan Nurul Wachida.

Kepala SMKN 1 Kendit Sigit Hindarum berharap semua warga sekolah dapat mengambil ilmu yang disampaikan oleh para fasilitator.  “Kami juga berterima kasih karena SMKN 1 Kendit ditunjuk menjadi pelaksana kegiatannya SPAB ini,” imbuhnya.

Sedangkan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Situbondo Sruwi Hartanto berharap kegiatan SPAB ini memberikan pemahaman pada peserta tentang perlunya membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Agar saat bencana datang, diharapkan memimalisir adanya korban jiwa dan kerusakan fisik. Selain itu, ancaman bencana bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah,” katanya.(zki)