Rakor Pemuka Agama: Jangan Usir Penderita Covid-19, Agar Wabah Tidak Menyebar

452
Wabup Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin memimpin rakor pemuka agama dan instansi terkait membahas dampak sosial wabah Covid-19. (foto by ary)

Sidoarjo, Pijaronline.net –Masyarakat yang positif Corona, PDP, dan ODP kini merasa ketakutan disingkirkan masyarakat lingkungannya. Efeknya, mereka cenderung menutupi penyakitnya. Mereka bisa keluar rumah,   bebas berinteraksi, dan penularan Corona semakin luas.

Penolakan lingkungan masyarakat terhadap orang terinfeksi  Corona tersebut harus dinetralisir. Pemuka agama atau kepercayaan harus memberi pengertian kepada lingkungan masyarakat tersebut.  Setidaknya, mereka harus dirangkul dan diberi masukan positif agar penyakitnya sembuh.

Pemkab Sidoarjo perhatian terhadap fenomena tersebut.   Selasa (7/4), Pemkab Sidoarjo menggelar rapat koordinasi dengan pemuka agama dan pejabat terkait di antaranya membahas permasalahan tersebut.

Hadir dalam di rakor  ketua DPRD Sidoarjo, Forkopimda, Kementerian Agama, MUI Sidoarjo, para ulama  NU, Muhammadiyah, dan LDII Sidoarjo, Dewan Masjid, Persekutuan Gereja – Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI), di pendopo Delta Wibawa di antaranya membicarakan masalah tersebut.

‘’Kami harus membicarakan dampak-dampak sosial akibat wabah Covid-19 ini  dan mencari solusinya bersama-sama,’’ kata Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, kemarin.

Kondisi terbaru kata Nur, beberapa masjid di wilayah Sidoarjo telah telah meniadakan sholat Jumat. Semua itu untuk memutus mata rantai sebaran Covid-19.  ‘’Semoga rapat koordinasi ini bermanfaat,’’ ujarnya.

Pada rakor ini ada dua permasalahan yang dibahas.  Pertama,  perkembangan update Covid-19 di Sidoarko. Kedua, membahas dampak sosial Covid-19  ini dikaitkan hukum agama dan  yang perlu disepekati bersama.  Keputusan itu nanti sebagai bahan maklumat bersama.

Dalam rakor, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Syaf Satriawan, menyampaikan update wabah Covid-19, per Selasa, yakni di Sidoarjo pasien positif ada  18 orang, 16 orang dirawat di rumah sakit, 2 orang meninggal dunia.

Pasien dengan Pengawasan (PDP)  ada 77 orang.  Rinciannya, dirawat di rumah sakit 21 orang, dirawat secara mandiri 17 orang, dinyatakan sehat atau sembuh 12 orang. Tapi ada yang lepas pantau 23 orang (tidak isolasi mandiri dan tidak dirawat di rumah sakit), yang meninggal ada 4 orang.

Total yang meninggal dari pasien positif dan PDP 6 orang. Namun di Pemakaman Umum Praloyo ada 8 orang. Dua di antaranya dari provinsi (dari RSAL) yang informasinya adalah orang Sidoarjo. Namun, statusnya belum terdaftar di Dinkes Sidoarjo

Pasien ODP jumlahnya 277 orang. Dirawat 5 orang, isolasi mandiri 257, selesai masa pantau 15 orang. Ini kondisi ODP yang di lapangan belum melihat ODP yang berdatangan dari luar daerah.

Masyarakat Sidoarjo yang terinfeksi Covid 19 cenderung memproteksi diri. Ada phobia yang tinggi. Mereka sakit sudah menderita. Tapi bila diketahui lingkunganya, mereka bisa diusir dari tempat tinggalnya.

‘’Sehingga orang takut mengaku sakit. Pada akhirnya bebas berkeliaran, ini tambah bahaya karena akan semakin meningkatkan penyebaran  Covid-19,’’ jelas Syaf. virus corona,”jelasnya.

Bagaimana solusinya? Menyikapi permasalahan ini,  ulama dari NU dan Muhammadiyah LDII, mengutarakan bahwa penyakit itu datangnya dari Allah SWT, bagaimana pun juga kita jangan menjauhkan diri  dari Allah. Kita  harus semakin mendekatkan diri kepada-NYA. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Sedikit gambaran untuk umat Kristen melalui pusat sudah diberi himbauan melalui surat di gereja – gereja seluruh Indonesia. Saat ini ibadah di gereja bisa diganti ibadah di rumah, secara online, WA grup, streaming dan youtube“ jelas Pendeta Maradona.

Bila memaksakan diri harus ada pertemuan bisa terjadi seperti salah satu gereja di Bandung. ‘’Memaksakan peribadatan. Hadir 200 jamaah. Salah satu positif. Semua jamaah itu terifeksi semua. Di Sidoarjo jangan seperti ini,’’ tambahnya.

Setelah melalui rakor yang panjang, pada akhirnya tercapai kesepakatan bersama. Yakni Maklumat Bersama Pelaksanaan Ibadah dalam Masa Penanganan Wabah Penyakit Covid. Maklumat ini nanti akan dirumuskan oleh Bagian Hukum Setdakab Sidoarjo.

Garis besar maklumat tersebut, adalah himbauan untuk tidak melaksanakan sholat jumat di masjid atau beribadah di gereja di  lokasi  tepi jalan raya dengan jamaah yang heterogen. Bila ada satu wilayah ada satu pasien positif dan masjid akan gelar jumatan bersama. Takmir harus koordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten  Sidoarjo. (ary)