Sastra Online akan Ganti Buku Sampai Hegemoni Online

118
Webinar internasional ECKLL IX FS Unitomo pada Sabtu (3/11)/photo/istimewa

Catatan Webinar Internasional ECKLLIX FS Unitomo Surabaya di Era Pandemi

Oleh: Mochamad Makruf

Apa yang menarik mengikuti webinar internasional ECKLL IX (Enrichment of Career by Knowledge of Language and Literature) Fakultas Sastra (FS) Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Surabaya pada Sabtu, (13/11)? Semuanya menarik. Termasuk pembicaranya dari lima negara. Kita seakan-akan  masuk ke konferensi mini PBB. Ini gara-gara pandemi. Seminar  internasional pun mudah digelar hanya via zoom.  Kampus-kampus di Indonesia seharusnya  kerap menggelar event seperti ini. FS Unitomo saja sudah tahun ke-9. Berikut laporannya.

LIMA pembicara itu,  Profesor Edward Buckingham dari Monash University, Australia, Tsutsumi Ryoichi, Ph.D. Associate Professor, Okayama University, Japan, Jin Hua, Ph.D. South China University of Technology, Cina,  Juan Francisco Ugalde Sanchez, Ms.A. (Director and Content Creator on The Arbol Online Radio,  Ekuador), dan dari Indonesia, Dr. Asrif, M.Hum, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Acara dimulai pukul 09.00. Setelah acara sambutan, pembicara pertama,   Asrif  menyampaikan materinya.  Pandemi Covid menurutnya selain membawa petaka, tapi ada juga manfaatnya. Yakni muncul istilah-istilah baru Bahasa Indonesia.

Isolasi mandiri (self isolation), karantina mandiri (self quarantine), jaga jarak (social distancing), pembatasan sosial berskala besar (lockdown), kehidupan baru (new normal), ODP (orang dalam pemantauan), OTG (orang tanpa gejala), ODR (orang dengan risiko), PDP (pasien dalam pengawasan), BDR (bekerja dari rumah), BDK (bekerja dari kantor), dan pertunjukan visual.

”Secara tidak langsung, munculnya istilah-istilah baru itu memperkaya perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Pandemi meski banyak petaka yang ditimbulkan, sedikit ada manfaat. Seperti saat ini kita webinar internasional tanpa batas. Tidak susah. Cukup via zoom,” kata Asrif.

Lebih lanjut Asrif mengatakan, pandemi memang telah melahirkan kreativitas seperti mudahnya melakukan diskusi (webinar), namun sastra sejatinya adalah perjumpaan langsung yang terbonsai oleh pandemi.

“Pertama, matinya seniman. Pembatasan aktivitas masyarakat turut mematikan aktivitas pelaku sastra. Kedua, sanggar sastra tutup. Pusat-pusat pelatihan sastra tidak dapat melakukan kegiatan dengan baik. Ketiga, sastra virtual tanpa rasa. Sastra dalam ruang virtual tidak mampu menghadirkan ketotalan sastra itu sendiri,” jelas Asrif.

Bagaimana sastra mendatang? ” Pelaku sastra aktif mendokumentasikan dan membagikan (share) kegiatan sastranya. Kedua, semakin banyak suguhn sastra melalui kanal youtube. Ini juga ada pelaku sastra jadi youtuber. Ketiga, kita juga dengan mudah melihat pertunjukan sasta di sekitar kita, antar wilayah, dan antarbangsa melalui pertunjukan virtual,” ujar Asrif.

Namun Asrif, berharap pandemi segera berakhir. “Karena kegiatan sastra itu baru memiliki roh bila ada tatap muka bertemu dalam satu ruangan, terjalin interaksi dan apresiasi langsung,” ujarnya.

Untuk memenuhi ini, Balai Bahasa Provinsi Jatim  harus melakukan kegiatan offline pertunjukan budaya. Seperti kegiatan Pembacaan Macapat di Malang dan beberapa kegiatan seni lainnya. “Tapi pertunjukan itu harus mengikuti protokol kesehatan ketat,” katanya.

Pembicara kedua, Profesor Edward Buckingham dari Monash University, Melbourne, Australia. Edward yang kini menjadi Professor and Director Program Monash Bussiness School, Jakarta memaparkan materinya berjudul, Social Change, Machiavelli and Establishing a New Order of Things: The Role of Literature in Creating a New Culture for Our Times.

Perubahan sosial ekonomi juga mengubah  permintaan ekspresi dan interpretasi. Buktinya ada beberapa angkatan di kesusastraan Indonesia.

Angkatan Pujangga Lama,  Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka (1920-1932), Angkatan Pujangga Baru (1933-1942), Angkatan 1945 (1942-1949), Angkatan 1950-1960-an, Angkatan 1966-1970-an, Angkatana 1980-1990-an, Angkatan Reformasi, Angkatan 2000-an, dan Angkatan Covid-19.

”Favorit saya adalah Angkatan 45. Ada penyair Chairil Anwar. Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi, itu syair puisi favorit saya. Chairil sastrawan jenius di eranya,” kata Edward yang mempresentasikan materinya dengan  bahasa Inggris dan  Indonesia.

Edward sebelumnya memang sudah lancar berbahasa Indonesia. Dia pernah belajar dan tinggal lama di  Yogyakarta. Dia juga  alumni AIYEP (Australia Indonesia Youth Exchange Program )1993 wakil Australia.

Dalam paparannya, dia menampilkan slide,  Literary Substitution: A Creative process where market are made. Era pandemi, pengganti sastra: suatu proses kreatif di mana pasar yang dibuat. Seorang inovator harus menciptakan pasar baru di era baru.

Machiavelli and  a new order of things: There is nothing more difficult to take in hand, more perilous to conduct, or more uncertain in its success, than to take the lead in the introduction of a new order of things, because the innovator has for enemies all those who have done well under the old condition, and lukewarm defenders in  those who may do well under the new. Machievelli: The Prince

Profesor Edward Buckingham dari Monash University, Australia ketika menyampaikan materinya/photo/makruf

Tidak ada yang lebih sulit ditangani, lebih berbahaya diatur atau lebih tidak jelas kesuksesannya, dibanding  memimpin dalam pengenalan tatanan baru, karena inovator memiliki musuh-musuh yang sudah mapan di  orde lama, dan pembela baru adalah mereka yang mungkin melakukan usaha baik di di bawah orde baru.

Seorang inovator memiliki tantangan besar untuk menciptakan pasar baru di bawah kondisi lama yang sudah mapan. ”Jadi dibutuhkan tenaga dan inovasi besar, untuk bisa menciptakan pasar baru di era pandemi,” kata Edward.

Yang menarik, menurutnya, justru  di era pandemi penjualan buku via online meningkat. Menurut data www.grandviewresearch.com, total Global Book Market, 132, 1 miliar dollar. Dan penjualan online tiga perempatnya.

Sedangkan, menurut data www.publishers.org.uk, konsumsi buku naik tajam selama awal pandemi pada 2020. Penjualan buku cetak atau fisik 1,7 miliar poundsterling atau ada kenaikan 4 persen. Penjualan digital total 418 juta poundsterling atau ada kenaikan 24 persen.

Dan, data grandviewresearch, penjualan  buku di North America secara online juga naik. ”Menariknya, buku-buku yang banyak terjual adalah buku-buku misteri dan cerita roman.  Kira-kira buku apa  yang disukai masyarakat Indonesia di era pandemi?” kata  Edward.

Biaya transaksi  bisa membentuk pasar atau transaction cost shape markets. Ketika era kerajaan yang merupakan kawasan terisolasi, semua kegiatan transaksi terpusat di cetral city.

Diagram berupa lingkaran. Lingkaran kecil di tengah adalah central city ada sungai kecil, dikelilingi  pasar sayur dan susu, diiikuti produksi kayu bakar, diikuti panen tanpa pembajakan, diikuti panen dengan bajak dan ladang kosong, lantas diikuti three field system atau sistem tanam tiga lahan  dan gudang ternak.”Semua transaksi terpusat di tengah atau pusat kota kerajaan,” jelasnya.

Namun seiring perkembangan zaman, sungai semakin  membesar. Dijadikan sarana tranportasi air dan tak jauh dari sungai terbetuk pasar-pasar rakyat. Keberadan sungai bisa  memecah pasar yang terpusat.

”Di era internet dan  pandemi, pasar online bisa memecah konsentrasi pasar. Di mana ada internet, maka akan terjadi transaksi,” jelas Profesor Edward. Dan, transaction cost juga bisa membentuk budaya.

Dari semua paparannya, Profesor Edward menarik kesimpulan, karena Indonesia semakin kaya dan perubahan sosial bisa mengakselerasi sastra dan akan menolong orang bisa menemukan jati dirinya.

Seperti juga buku bisa menggantikan novel berseri-seri, online literature akan menggantikan buku. ”Dan rendahnya transaksi bisa mengarahkan kita ke periode kompetisi sastra (terpusat)  atau terpecah-pecah,” pungkas Profesor Edward.

Sementara itu pembicara ketiga, Ryoichi Tsutsumi dari Okayama University, gara-gara pandemi, sekitar 90 persen siswa asing batal belajar di universitasnya dan harus belajar via online. ”Kami ada kendala di pengajarannya,” jelasnya.

Dan, ketika mengajar secara online, dia merasa tidak puas dengan respon mahasiswanya. Ditanya soal menjelaskan,  tapi jawabannya sangat singkat.

Ketika menjawab soal-soal essay, jawabannya juga pendek-pendek. ”Kondisi ini berbeda bila pertemuan offline. Mahasiswa bisa mempengaruhi satu sama lain. Ketika dia mau menjawab pendek dan lihat temannya menulis panjang, maka dia terpengaruh menjawab tulisan panjang,” kata Ryoichi yang penjelasannya dengan bahasa Jepang diterjemahkan oleh seorang penerjemah Jepang yang juga dosen Fakultas Sastra Jepang Unitomo.

Kesimpulan Ryoichi, kemampuan bahasa Jepang siswa asing yang tidak bisa masuk belajar di jepang karena pandemi dan hanya bisa belajar online jadi masalah. ”Sangat penting bisa belajar tatap muka segera sambil mencari solusi terbaik belajar di era pandemi,” jelasnya.

Sementara itu, Jin Hua, Ph.D. South China University of Technology, Cina, kini di negaranya banyak orang belajar bahasa Jepang. Tidak ada ketentuan khusus orang Cina belajar bahasa jepang. Tapi karena pandemi pembelajaran harus online dan tidak maksimal. ”Saya berharap pandemi segera berakhir,” kata Jin Hua yang presentasinya menggunakan bahasa Jepang.

Sedangkan,  Juan Francisco Ugalde Sanchez, paparannya berjudul “Hegemonic Culture and Power, The Survival of Other Culture”. Sedikit ada muatan politik kekuasaan. Kekuasaan bisa mempengaruhi pertunjukan seni meski di era pandemi. Pertunjukan televisi dan musik bisa disusupi unsur hegemoni power.

Secara keseluruhan, event ECKLL yang diikuti sekitar 180 peserta ini berakhir pukul 14.30. Setelah sebelumnya ada breakout room di zoom untuk kelas paralel.

Secara keseluruhan, menurut penulis, acara webinar ini sangat menarik. Bisa perluas wawasan terkait budaya, sastra dan bahasa negara lain.  Ada tiga masukan untuk perbaikan ECKLL ke depan.

Pertama,  durasi waktu pemateri seharusnya diperpanjang.  Terkesan, pembatasan waktu terlalu ketat. Pembicaranya buru-buru closing materinya.  Seperti pembicara dari Equador, yang sudah izin mau closing tapi keburu diputus waktunya. Pembicara sedikit kecewa.

Kedua, bisa dimungkinkan nama ECKLL digantikan nama baru yang millineal. Bisa Literature, Language, and Culture Update (2LCU),10th. Karena,   ECKLL IX terkesan old. Memang old karena sudah masuk tahun ke-9.

Ketiga, saya juga tidak tahu, mengapa support terhadap  event ini minim termasuk dari Kemdikbud. Padahal event ini sangat bergengsi.  Menghadirkan pembicara intenasional bukan pekerjaan mudah. Apalagi  salah satu pembicaranya dari Monash University. Ibaratnya menghadirkan gajah di kandang kelinci.

Terakhir, salute untuk panitia. Meski minim support, ECKLL still alive. Semoga tahun depan  event ini  much better. (*)

Penulis adalah Wartawan Madya, PWI-Dewan Pers*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here