Sehari 6 Jenazah, Harus Siaga 24 Jam, dan Tidur di Makam

1693
Inilah makam korban Covid-19 di TMU Delta Praloyo Asri, Jalan Lingkar Timur, Gebang, Sidoarjo/foto-makruf/pijaronline.net

Cerita Penggali Kubur Korban Covid-19 di TMU Delta Praloyo Asri, Sidoarjo

Oleh: Mochamad Makruf

APAKAH saat ini angka korban  Covid-19  di Sidoarjo naik lagi? Selama masa pandemi, kapan angka kematian Covid-19 tertinggi dan terendah? Bagaimana suka dukanya?  Berikut kisah Sukoyo (47),  penggali kubur korban Covid-19 di Taman Makam Umum (TMU), Delta Praloyo Asri, Jalan Lingkar Timur, Gebang,  Kecamatan Kota Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.

Sabtu (26/12), cuaca agak mendung. Namun, matahari masih menyembul bersinar. Udara agak lembab dan terik. Dengan naik motor, saya melaju ke TMU Delta Praloyo Asri di Jalan Lingkar Timur, Gebang, Kecamatan Kota Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.

Setelah traffic light Jalan Lingkar Timur, Gebang, sekitar 200 meter sisi timur sudah terpampang pintu gerbang TMU Delta Praloyo Asri. Saya belok ke timur masuk gerbang. Namun, ternyata ke lokasi makam, sekitar  300 meter ke timur. Banyak pohon di kanan kiri jalan. Jalan juga terbilang mulus.

Sekitar 5 menit, setelah melintasi jembatan dan berbelok ke sisi kiri maka saya tiba kantor pemakaman. Papan nama tembok dasar keramik hitam. Tertulis TMU Delta Praloyo Asri, Kabupaten Sidoarjo, Jl.Raya Lingkar Timur, Gebang.

Saat itu, ada dua lelaki di teras kantor. Salah satunya tampak memperbaiki motornya. Sekilas suasana kantor sepi. Di dalam kantor yang depannya berkaca tidak ada orang. Hanya dua orang itu saja. Dan, satu orang duduk di gazebo di halaman kantor

”Pak, apa bisa bertemu pak penggali kubur?  Saya mau tanya soal pemakaman korban Covid-19,” tanya saya. ”Wah, Pak Koyo,kordinatornya tidak di sini. Tapi dia ada di kantor makam Nasrani. Anda ke makam Nasrani saja di pojok utara,” jawabnya. ”Ok, pak. Terima kasih,” jawab saya.

Sekedar info, TMU Praloyo diresmikan pada 6 Februari 2003. Pembangunan TMU dirintis mulai 1999 oleh para pengembang (developer) yang tergabung dalam REI (Real Estate Indonesia) Sidoarjo.

Awalnya, para pengembang merasa tidak efektif atau riskan membangun fasilitas umum (fasum) makam di dalam lahan perumahan. Mereka berembuk dan muncul ide fasum makam-makam perumahan mereka dijadikan satu dalam TMU besar. Maka pada 2001, tim pengembang ini membebaskan lahan seluas 10 ha di Desa Gebang dan mulai dibangun TMU Delta Praloyo.

Tim pengembang kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada Pemkab Sidoarjo yakni Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Tim DKP kemudian studi banding ke Jakarta selama tujuh hari untuk belajar bagaimana mengelola makam estate.

Maka, pada 6 Februari 2003 diresmikanlah TMU Delta Praloyo. Dan, 10 ha lahan terdiri 4 ha makam Islam, 2 ha makam Nasrani, 2 ha makam Hindu, dan 2 ha makam Budha

Di makam ini disediakan pula modin, mobil jenazah, dan para penggali kubur. Semua proses pemakaman itu bisa diurus TMU Praloyo. Berapa biaya? Retribusinya Rp 1,750 juta.

Namun, sejak 2017, TMU Praloyo tidak dikelola DKP tapi di bawah Dinas Perumahan dan Permukiman (Permukim) Sidoarjo. Ketika saya ke kantor makam, tidak ada tertempel berapa biaya-biaya pemakaman yang update.

Di kaca depan kantor tertempel  Surat Edaran dari Dinas Permukim intinya melarang mendirikan bangunan  di atas pusaran makam.  Dan, juga warga yang dimakamkan di TMU Praloyo adalah warga perumahan khususnya dan warga Sidoarjo pada umumya. SE itu dibuat bulan Oktober 2018. Sayangnya, tidak ada SE terkait tarif-tarif pemakaman terupdate.

Balik ke lokasi TMU Praloyo, saya kemudian meluncur ke makam Nasrani sekitar 800 meter ke sisi utara makam Islam. Dalam perjalanan ke makam Nasrani, sisi kanan banyak terhampar areal tambak dan areal makam di sisi kiri. Makam Islam di sisi kiri dipagari dan terurus rapi. Tapi sekitar 30 meter dari situ ada  sekumpulan makam Islam yang letaknya terbuka. Tidak ada pagarnya. Selintas terlihat aneh.

Saya terus melaju dan belok ke kiri sedikit dan tiba di pintu gerbang makam Nasrani. Ada gazebo dan perkantoran seperti rumah. Saat itu sepi. Ada seorang anak muda. Saya pun menanyakan keberadaan Pak Koyo, panggilan Sukoyo. “Permisi dik, apa ada Pak Koyo,” tanya saya. “Oh, ada pak. Orangnya di lokasi makam. Mari saya antar,” jawabnya.

Dia naik motor dan saya mengikuti di belakangnya menuju ke arah selatan di dalam areal makam. Di pojok barat makam Nasrani ada jalan paving sekitar 4 meter dan kemudian jalan tanah. Di barat jalan itu ada kolam sepertinya tambak. Sekitar 100 meter, dia berhenti. Saya berhenti. “Itu pak Koyo,” katanya sambil menunjuk ada lima orang lelaki tengah berunding di samping gundukan makam Nasrani.

Saya berjalan ke situ. ”Saya mau bertemu Pak Koyo,” tanya saya. ”Saya, Mas,” jawab seorang lelaki berkaos abu-abu dan lengan panjang warna jingga. Orang ini perawakannya besar dan berkumis lebat. Tapi terlihat ramah dan murah senyum.

Penulis memperkenalkan diri dan mau menulis suka duka penggali kubur makam korban Covid-19. Mungkin, tulisan nanti  ada nilai positif yang bermanfaat bagi masyarakat. ”Silakan Mas, bertanya apa? Saya juga sering ditanyai para wartawan,”ujarnya.

Dengan duduk di atas gundukan makam yang ditumbuhi rumput golf, Sukoyo mulai bercerita. Dia mengaku warga Desa Gebang RT 04, RW 01, Kecamatan Kota Sidoarjo. Rumahnya tidak jauh dari makam. Dia mulai bekerja sebagai penggali TMU Praloyo sejak TMU diresmikan pada Februari 2003.

Sukoyo (47), Koordinator Penggali Kubur TMU Delta Praloyo Asri, Sidoarjo/foto-makruf/pijaronline.net.

”Saya semula pengawas pembangunan makam. Tapi kemudian ditawari sebagai koordinator penggali kubur TMU. Saya setuju saja,” kata pria yang sebelumnya pernah jadi marketing koran Jawa Pos Group.

Dia memiliki lima anak buah. Namun kini tinggal empat orang. Yang satu orang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di depan kantor TMU Praloyo pada 27 Oktober 2020. Namanya Sukatiran (45), warga Putat, Tanggulangin.

”Saat itu, almarhum usai memakamkan jenazah Covid. Dia kemudian pulang. Saat motornya Shogun   L 2703 XI keluar dari kantor depan TMU, mendadak motor ditabrak pemabuk. Sukatiran meninggal di lokasi kejadian,” kata Sukoyo.

Sukoyo mengaku  merasa kehilangan. Karena korban juga ada hubungan kerabat dengannya. ”Kini penggali kubur lima orang termasuk saya,” katanya.

Semula TMU ini dikelola DKP tapi sejak  2017 dialihkan ke Dinas Permukim. Berapa biaya pemakaman sekarang? ”Bisa tanya ke Pak Mariono di kantor depan. Tapi retribusi sewanya saat ini Rp. 300 ribu per dua tahun sekali,” katanya.

Tapi untuk makam korban Covid-19 menurut gratis. Hanya ditarik biaya nisan saja,sekitar 150 ribu. Tapi pelayanannya 24 jam. Saya dan tim penggali harus stand by 24 jam. Bila pelayanan jenazah umum dibatasi pukul 15.30,” katanya.

IKUT BANTU  WABUP SIDOARJO MAKAMKAN JENAZAH COVID-19

Korban Covid-19 pertama Sidoarjo yang dimakamkan di TMU Delta Praloyo Asri. Almarhum Wabup Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin ikut menguburkan jenazah/foto/istimewa.

Kapan mulai korban Covid-19 dimakamkan di TMU Praloyo? ”Ketika almarhum Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo, Bapak Nur Achmad Syaifuddin memakamkan korban meningga pertama Covid-19 di Sidoarjo,” katanya.

Saat itu Rabu (25/3),  seorang pasien laki-laki positif Covid-19,  warga Jalan Sikatan Perumahan Sedati Permai menghembuskan napas terakhir pukul 19.00.

Begitu menerima laporan, Pemkab Sidoarjo menghubungi Pemkot Surabaya untuk berkoordinasi. Sebab warga yang meninggal ber-KTP Surabaya namun tinggal di perumahan kawasan Kecamatan Sedati. Ternyata belum siap. Sesuai SOP pasien positif covid-19 yang meninggal harus dimakamkan tidak boleh lebih dari empat jam.

Warga setempat menolak memakamkan korban di tanah makamnya. Pihak keluarga menghubungi Satgas Covid-19 Sidoarjo. Almarhum Wakil Bupati Nur Ahmad Syaifuddin tiba di lokasi. Dia memerintahan jenazah Covid-19 dimakamkan di TMU Delta Praloyo. “Almarhum Pak Wabup ikut memakamkan. Saya  dan empat rekan ikut membantunya. Kami berpakaian APD lengkap. Pemakaman baru selesai pukul 02.00,” kata Sukoyo.

Sejak itu, TMU Praloyo dijadikan makam korban Covid-19. Lokasinya makam korban Islam setelah makam umum Islam. Tempatnya terbuka tidak ada pagar. “Di sini juga ada makam korban Covid-19 Nasrani. Letaknya tidak jauh dari sini,” katanya.

OKTOBER TURUN, NOVEMBER CAPAI LIMA JENAZAH SEHARI

Kantor TMU Delta Praloyo Asri di Jalan Lingkar Timur, Gebang, Sidoarjo/foto-makruf/pijaronline.net.

Selama pandemi, sampai berapa jenazah Covid per hari ? ”Bisa, 2, 3, 5 bahkan maksimal 6 jenazah per hari. Saya tidak sempat istirahat. Jadi sejak pagi sampai esok paginya. Jadi melayani pemakaman jenazah Covid-19,kami harus siap  24 jam. Saya tidur di makam. Meski rumah dekat sini, ” katanya.

Bulan apa angka kematian Covid-19 turun? “Pada bulan Oktober. Seminggu hanya 1 jenazah. Tapi masuk ke bulan November, angka kematiam naik lagi. Pada Senin (21/12), jenazah Covid masuk sini lima jenazah. Jadi kita harus waspada. Covid naik lagi,” katanya.

Korban Covid-19 pada November ini banyak kalangan anak muda bahkan bayi juga ada. “Hati-hati anak-anak muda. Hindari kerumunan dan terus disiplin protokol kesehatan,” pesannya.

CERITA TENTARA BERPANGKAT JENDERAL

Bahkan ada anggota tentara kelahiran 1974 berpangkat perwira tinggi. Meninggal di Jakarta dan sebelumya dites swab. Jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sidoarjo karena anggota ini pernah peroleh bintang jasa dari pemerintah.

“Jenazah sudah menuju ke taman makam Pahlawan tapi setelah diketahui hasil tes positif Covid, jenazah dialihkan dimakamkan di TMU Praloyo ini. Kasihan,” kata Sukoyo.

Bila sehari sampai 6 jenazah, apa tenaga penggali cukup?”Ukuran lubang makam muslim, lebar 70 cm, panjang, 2 meter, dan kedalaman,  1,30 meter. Ini cukup dikerjakan satu penggali. Waktu penggalian,  1,30 jam. Tapi bila penggalian makam Nasrani yang pakai peti jenazah dikerjakan dua sampai tiga orang. Lebarnya 90 cm, panjang, 2,25 meter dan kedalaman 1,30 meter,” ujarnya.

Mengapa tidak memakai  mesin bego untuk penggalian makam seperti di makam korban Covid di Keputih, Surabaya? ”Jenis tanah makam di TMU Praloyo adalah tanah uruk. Banyak bebatuan. Bila memakai bego, tanah di sampingnya bisa runtuh.Karena itu,bila kami gali manual dan kena batu, penggalian bisa selesai sampai tiga jam,” katanya.

Dari mana info bila ada jenazah Covid akan dimakamkan di TMU? “Kami diinfo  Dinas Kesehatan Sidoarjo dan tembusannya ke Polresta Sidoarjo. Kami di-info ada jenazah Covid dari RS rujukan siapkan galian makam. Dua anggota Polres Sidoarjo, Pak Yoyok dan Pak Agus selalu menemani kami,” katanya.

Ternyata yang bikin dirinya kesal bila menunggu jenazah dari rumah sakit rujukan tidak segera datang ke TMU. Dia sangat mengapresiasi rumah sakit yang cepat mengirimkan jenazah Covid ke TMU untuk dimakamkan.

“Bila diranking, RSI Siti Hajar yang paling cepat kirim jenazah Covid. Tidak sampai satu jam. Galian belum selesai, jenazah sudah tiba. Kedua, RSI Siti Khotijah, Taman, dua jam tiba, termasuk RS Rochman Rachim, Taman.  Yang lemot RSUD Sidoarjo, sampai 3 jam. Padahal jaraknya dekat. Paling lama lagi RS Mitra Keluarga, Waru,  bisa lebih dari 5 jam,” katanya.

Bila dibuat perbandingan banyak mana jenazah Covid atau jenazah umum dimakamkan di TMU per hari? “Hampir imbang. Tapi jenazah umum bisa capai 9 sampai 10 per hari. Jenazah Covid maksimal 6 per hari,” katanya.

Dalam menjalankan profesinya, Sukoyo berbekal ikhlas dan tawakal. Meski di awal pandemi dan setelah memakamkan jenazah Covid-19 pertama Sidoarjo, keluarga dan dua anak saya sempat dijauhi rekan-rekannya. ”Saat itu berat sekali. Keluarga dan anak-anak sempat dikucilkan. Tapi kini tidak,” katanya.

Berapa gajinya? ”Lumayan pak. Disyukuri meski sedikit. Saya tenaga honorer di Dinas Permukim. Sebulan memperoleh gaji, 2,2 juta. Alhamdulilah, itu sudah cukup itu biaya sekolah dua anak saya. Yang pertama, perempuan sudah kuliah semester 5 di Umsida. Kedua, lelaki kelas 7, SMPN 3 Sidoarjo,” ujarnya.

Dia mengakui ketika memakamkan jenazah Covid juga ada tambahan honor.  Satu jenazah, 1 Juta per masing-masing penggali. Namun, itu sebanding dengan resiko yang ditanggungnya. “Karena ketika memakamkan jenazah Covid, dia dan anak buahnya  harus memakai APD lengkap dan baru. Kami tidak mau APD bekas. Karena resikonya tinggi,” katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Sidoarjo juga memasoknya suplemen vitamin C dosis tinggi. “Saya minum setiap hari jelang tidur. Bila pil vitamin itu habis saya tinggal minta ke Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Apa pernah ditemui hantu setelah memakamkan jenazah? ”Tidak pernah. Malah saya bila tidak bisa tidur dini hari keluar kantor dan duduk-duduk di tengah makam,” katanya sambil tertawa.

Sukoyo berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Sehingga segala aktivitas berlangsung normal lagi. ”Saya berpesan. Bahwa covid itu ada dan mematikan. Tetap terapkan 3M, mencuci tangan, bermasker, dan menjaga jarak. Semoga kita selalu diberi kesehatan yang Maha Kuasa. Amin,” kata Sukoyo ketika difoto harus melepas maskernya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada penulis. Semoga kisahnya bisa menjadi perhatian bahwa Covid-19 berbahaya dan kita harus selalu waspada. (*)

* Wartawan Senior dan Peserta FJPP (Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku) kerjasama Dewan Pers dan Satgas Covid-19.