Antara Monumen Arc of SLG, Kediri dan  Arc de Triomphe,  Paris

363
Penulis bersama istri di monumen Arc of SLG di Kediri/photo:pribadi.

Oleh: Mochamad Makrup*

Saya dan keluarga berkunjung ke Kota dan Kabupaten Kediri pada 11-12 Maret 2023. Tujuannnya mengikuti acara Hari Pers Nasional (HPN) ke-38 di Hotel Grand Surya, Jl Doho, Kota Kediri. Esoknya, kami piknik tipis-tipis ke monumen Arc (bow; melengkung)  of Simpang Lima Gumul (SLG) di  Tugurejo, Ngasem, Kabupaten Kediri. Bagaimana perbandingan monumen Arc of SLG dengan   Arc de Triomphe yang asli di Paris, Perancis? Berikut liputannya.

KUNJUNGAN  saya ke Kediri sudah kali ketiga. Pertama, ketika saya sebagai peserta Jawa Pos Cycling, Grand Fondo, dengan rute Surabaya- Sarangan yang menempuh jarak 360 kilometer. Cycling itu sendiri berlangsung dua hari. Hari pertama pit stop di Kota Kediri–setelah sebelumnya peserta menanjak ke kawasan Gunung Kelud dan turun finish di Balai Kota Kediri, sekitar pukul 16.00. Disambut Wali Kota Kediri. Setelah itu peserta bermalam di dua hotel, yakni di Merdeka dan Grand Surya. Esoknya, pukul 06.00, dari balai kota, peserta start menuju ke Sarangan. Seru.

Kunjugan ketiga ini   usai saya mengikuti wisuda Magister Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya di Dyandra Convention Hall, Jalan Basuki Rakhmad, Surabaya pada Sabtu (11/3) siang. Sebetulnya, saya dan keluarga ke Kediri tanpa perencanaan. Semula,  saya bersama para wartawan Surabaya  akan mengunjungi acara HPN itu pada Sabtu sekitar pukul 09.00. PWI Jatim sendiri menyediakan dua bus untuk rombongan wartawan dan berangkat dari kantor PWI Jatim, Jalan Taman Apsari Nomor 15-17, Surabaya. Namun, saya batal ikut rombongan itu karena bertepatan acara wisuda.

Tapi usai wisuda, anak saya berkeinginan mengunjungi Kediri. Selain ke HPN juga sekalian piknik tipis-tipis. Istri setuju. Maka sekitar pukul 16.00, kami pun meluncur ke Kediri memakai kendaraan pribadi. Acara HPN sesuai undangan dimulai pukul 18.00. Maka, memburu waktu, mobil melaju kecepatan rata-rata 100 sampai 120 kilometer per jam via tol. Alhamdulilah, kami tiba di Kota Kediri pukul 18.45. atau sekitar 2 jam, 45 menit.

Ternyata acara HPN sendiri dimulai pukul 21.30 dan meriah. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa hadir dan membuka acara itu. Dia mengingatkan insan pers Jawa Timur harus turut serta menguatkan UMKM di Jawa Timur. “Karena prediksi Jack Ma bahwa pada 2030, UMKM akan menjadi backbone perekonomian negara,” ujarnya. Acara HPN itu sendiri usai sekitar pukul 23.00.

Apa yang menarik di  Kediri? Mengunjungi monumen SLG atau saya menyebutnya monumen Arc of SLG. Karena monumen ini bentuknya terinspirasi monumen Arc de Triomphe, Paris, Perancis.  Penulis akan membandingkan monumen Arc of  SLG dengan Arc de Triomphe.  Itu karena, penulis pernah mengunjungi monumen Arc de Triomphe yang asli di Paris, Perancis. Bagaimana perbedaan SLG dengan Arc de Triomphe, Paris?

Kunjungi Monumen Arc of SLG

Kami ke mengunjungi monumen Arc of SLG pada Minggu, 12 Maret 2023, sekitar pukul 14.00. Itu setelah kami check out dari Hotel Insumo Palace, Jalan Urip Sumohardjo No,90, Kaliombo, Kota Kediri sekitar pukul 12.00. Usai chek out, kami sempat ke Alun-Alun Kota Kediri untuk beli oleh-oleh setelah itu meluncur ke SLB.  Dari Kota Kediri menuju ke wilayah Kabupaten Kediri. Tepatnya di Desa Tugurejo.

Jarak antara Alun-Alun Kota Kediri menuju ke SLG adalah 8 kilometer. Kami pun meluncur dan sempat melintasi Jembatan Kediri. Sekitar 20 menit, kami tiba di monumen Arc of SLG. Tampak pengunjung ramai sekali. Terlihat banyak pengunjung melakukan swafoto di kawasan SLG. Kendaraan roda dua mendominasi diparkir di seberang jalan SLG. Kami mencari tempat parkir mobil. Dan, ternyata parkir mobil dan motor sudah disediakan di kawasan sekitarnya. Mobil pun kami parkir. Usai parkir, ternyata ada jalan terowongan–yang menuju monumen tidak jauh dari parkir mobil. Namun saat itu jalan terowongan dekat parkir mobil ditutup.

Jukir memberitahukan bila ingin masuk terowongan ke SLG  ada  di kawasan parkir seberang jalan.  Kami pun menyeberang jalan menuju parkir yang dimaksud. Setibanya di parkir seberang, ternyata ada pameran UMKM dalam rangka HPN ke-38. Stand sepi tapi panggung hiburan band tetap beraksi. Kami pun langsung menuju ke pintu terowongan T1. Kami memasukinya. Ternyata jalan terowongan yang lebarmya sekitar 4 meter. Pengunjung sepi.  Tak lama, kami tiba di areal SLG.

Hari itu, terik matahari panas sekali. Meski demikian, tak menyurutkan para pengunjung berfoto ria dengan latar belakang monumen Arc of SLG. Mereka berfoto berbagai gaya. Karena untuk berfoto tak dipungut biaya. Kecuali Anda meminta photographer keliling yang stand by di lokasi monumen. Para photographer itu modalnya hanya HP android.

Di dalam monumen, terlihat juga banyak pengunjung. Mereka ternyata berteduh dari panasnya sinar matahari. Mereka ada duduk di badukan kawasan dalam monumen–dan sebagian di lantai. Terlihat juga ada toko souvenir. Lumayan juga pembelinya. Di bagian dalam monumen itu ternyata ada lift dan tourist information. Namun itu semuanya tutup. Yang buka hanya toko souvenir.

Kapan monumen SLG didirikan dan berapa ukuran luas dan tinggi? Dikutip dari berbagai sumber, monumen SLG dibangun pada 2003 oleh Bupati Kediri saat itu, Sutrisno. Pembangunanya membutuhkan waktu lima tahun. Pada  2008, monumen baru diresmikan. Keunikan monumen dari bentuknya yakni  menyerupai Arc de Triomphe di Paris. Tingginya 25 meter dan terdiri dari 6 lantai. Ditumpu 3 tangga sepanjang 3 meter dari lantai dasar. Angka luas dan tinggi monumen simpang lima gumul mencerminkan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Kabupaten Kediri. Yaitu 25 Maret 804 Masehi. Pendirian monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.

Kami pun berfoto ria dengan latar monumen sampai terpuaskan. Ternyata matahari bersinar panas sekali. Usai puas berfoto, kami masuk ke bagian dalam monumen untuk berteduh. Ternyata di bagian dalam teduh sekali. Angin sesekali bertiup. Lumayan hawas panas sedikit tergantikan hawa dingin angin. Ketika berfoto itu, saya merasakan monumen SLG ukuran dan besarnya terlihat seperti Arc De Triomphe asli. Kemiripannya sekitar 50 persen. Mau tahu Arc De Triomphe asli?

Kunjungi Arc De Triomphe, Paris

Saya ke Paris tidak melalui travel agent. Tapi saya solo backpacker. Berpergian seorang diri. Mengurus dokumen perjalanan baik itu visa juga sendiri. Berkunjung ke Paris dengan solo backpacker kenangan tidak terlupakan. Ini terjadi pada 18-19 Oktober 2011. Saya bisa piknik ke Paris hanya keberuntungan belaka. Semula hanya omongan iseng, eh…ternyata sebuah doa dan terkabul. Ingat hati-hati berbicara. Omongan itu adalah doa mu. Dan, itu terjadi.

Penulis bersiap naik kereta peluru DB Jerman dari Frankfurt ke Paris, Perancis/photo:pribadi.

Bermula saya berbicara iseng dengan teman kantor di PT Temprina saat itu di Jalan Karah Agung, Surabaya.  Saya sendiri staf penerbitan buku PT. Jepe Press Media Utama (JP Books), anak perusahaan Temprina (Jawa Pos Group). Dua perusahaan itu berkantor di Karah Agung–yang semula kantor Jawa Pos sebelum pindah ke Graha Pena pada 2018.

Saat itu saya bertanya kepada teman, kota mana di dunia yang betul-betul ingin Anda kunjungi sebelum meninggal dunia kecuali Mekkah dan Medinah? Teman saya ingin mengunjungi Washington, Amerika Serikat. Saya sendiri menjawab Kota Paris, Perancis. Karena kota ini sendiri kerap disebut dan dijadikan lokasi pembuatan film-film Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Kota cinta, fashion, dan kota cahaya. Bangunan kota pun klasik.

Ternyata omongan iseng itu saya, Alhamdulilah terkabul. Tak lama kemudian, kantor memerintahkan saya mengunjungi Frankfurt Book Fair, yakni pameran buku terbesar di dunia di Jerman. Usai pameran, saya pun berkunjung ke Paris.

Dalam perjalanan ke Paris ini, saya naik kereta cepat peluru. Saya ingat kereta berangkat dari Frankfurt pukul 10.00. Jarak Frankfurt ke Paris semalam naik bus. Seperti Surabaya ke Jakarta. Saya pun naik kereta meluncur ke Paris Est, stasiun di Paris.  Dan,  bahasa yang saya kuasai hanya Inggris. Informasi yang disampaikan di kereta menggunakan tiga bahasa. Inggris, Perancis, dan Jerman. Ketika saya naik taksi pun, saya harus mencari sopir yang menguasai Bahasa Inggris. 

Day 1, Rainy Day

Singkat cerita, ketika tiba di Stasiun Kereta Paris, yakni Paris Est, saya naik ke taksi ke lokasi Menara Eiffel sebelum pukul 16.00 Itu karena sebelumnya saya sudah booking tiket secara online naik ke puncak Eiffel pukul 16.00. Naik ke puncak Eifel sendiri ditutup pukul 20.00. Saya bisa memperoleh sopir taksi wanita Perancis dan bisa berbahasa Inggris. Dia muda dan cantik. Bahasa Inggris-nya pun  lancar. Kami tiba  di Eiffel sebelum pukul 16.00.

Penulis di bawah Eiffel Tower sebelum naik ke puncak/photo:pribadi

Sekitar pukul 16.00, saya pun naik ke puncak Eiffel Tower dan saat itu pengunjungnya ramai juga. Jalur pengunjung kanan-kiri pipa besi. Meski ramai,  pengunjung tertib menunggu giliran naik lift menuju ke puncak. Tiba di puncak Eiffel, pemandangan bagus sekali. Dari atas, saya bisa melihat sekeliling Kota Paris dengan Seine River–yang membelah Kota Paris.

Sekitar pukul 17.00, saya sudah turun dari Puncak Eiffel. Saya pun naik bus merah,  hop on hop off double deck atau bus tingkat–yang tingkat kedua tanpa atap untuk city tour Paris. Hanya membeli tiket 3 euro, saya bisa berkeliling lebih dari 10 objek wisata Paris dan tiket pun berlaku dua hari.

Penulis di puncak Eiffel Tower, Paris, Perancis/photo:pribadi.

Bus pun melaju mengelilingi kota Paris. Saya tidak tahu pasti ke mana saja bus itu berhenti. Sebelum ke Paris, saya tidak ada riset googling objek-objek wisata-nya. Yang saya tahu objek wisata Paris hanya Eiffel Tower dan Arc de Triomphe. Padahal saat itu saya juga menginjakan kaki di Champs Elysees dan Champ de Mars. Saya juga kayaknya mengambil foto Notre Dame Catedral sebelum terbakar melalui bus yang melaju.

Sekitar pukul 20.00, bus mendekati Arc The Triomphe, saya kemudian mengambil foto. Tapi kondisi gerimis dan malam, sehingga gambar jelek. Ada titik hujan dan gambar tidak memuaskan. Maklum saya pakai kamera DSLR lensa standar pakai auto mode lagi.  Ada rasa tidak puas. Saya pun berkeinginan harus balik esoknya ke objek wisata ini. Esok pasti cuaca cerah.

City Tour berakhir pukul 22.00. Saya turun di Trocadero–tidak jauh dari menara Eiffel. Namun sampai pukul 23.00, saya masih di Trocodero, galau mau tidur di mana. Hotel yang saya booking sebelum masuk Paris sudah hangus pada pukul 19.00. Seharusnya ketika turun menara Eiffel saya harus menuju ke hotel. Tapi sebaliknya, saya habiskan waktu untuk naik bus city tour.

Pemandangan Kota Paris dilihat dari puncak Eiffel Tower. Tampak bangunan Trocadero–yang berbentuk U/photo:pribadi.

Saya berniat tidur di stasiun Paris Est dan mencegat taksi di halte stop taksi. Untungnya, saya dapat taksi yang sopirnya pintar berbahasa Inggris. Saya tanya apa bisa membantu saya mencari hotel murah yang dekat stasiun. Dia bilang ada.

Saya pun didrop di hotel itu. Saya bilang terima kasih.  Saya booking hotel itu, Harganya ternyata  50 euro (kurs 1 euro saat itu = Rp.12.000). Bila ada mandi tambah 15 euro. Karena sudah mengantuk berat, saya pilih yang murah tanpa mandi.  Toh, kalau mandi, juga pakai kamar mandi di luar.

Saya melepaskan tas dan celana panjang. Setelah itu, saya menggosok gigi persiapan untuk tidur. Sebelumnya saya melihat sekeliling kamar. Ada jendela dan ternyata kamar menghadap ke jalan besar.  Karena sangat lelah, saya pun tertidur. Tapi sebelumnya, saya punya rencana harus check out pagi hari untuk memotret lagi Arc de Triomphe di jalan Place Charles de Gaule.

Tapi untuk ke sana bagaimana? Tantangan bagi saya. Mau tidak mau saya harus naik bus kota. Saya harus bangun pagi. Karena kalau kesiangan keburu saya harus balik ke Frankfurt. Jadwal kepulangan dengan kereta pukul 12.30. Tak lama, saya pun tertidur pulas.

Day 2, Sunny Day

Tidur terasa sebentar. Meski demikian, badan kembali bugar.  Saya sudah terbangun sekitar pukul 06.00. Saya lihat suasana jalan raya masih sepi. Lampu masih menyala. Saya lihat bangunan seberang jalan ternyata bakery shop. Menjual roti yang panjang-panjang. Roti itu untuk makan pagi. Saya segera gosok gigi. Dan, berwudlu untuk sholat Shubuh. Setelah sholat, saya tidur lagi dan sekitar pukul 08.00 harus bangun dan check out.

Pukul 07.45, saya terbangun dan packing sedikit. Setelah itu, saya turun dan menemui resepsionis dan check out. Saya juga sempat meminta kartu nama bila suatu kali berkunjung ke Paris lagi. Ternyata hotel ada di  Rue du Poteau Street.

Saya lantas keluar hotel dan menuju jalan raya mencari halte bus kota. Bagaimana pun saya harus naik bus kota dari Rue du Poteau menuju ke CDG (Charles De Gaule). Tak lama, saya menemukan halte. Dan, bus-bus kota Paris memakai angka. Saya lihat bus dari Rue du Poteau yang menuju ke CDG.

Ternyata ada bus menuju ke CDG. Bus N14 dan pindah lagi ke Bus N 11. Saya pun menunggu bus yang dimaksud. Tak beberapa lama, bus N 14 tiba di halte. Saya segera naik. Perjalanan ken CDG cukup lama juga membutuhkan waktu 54 menit. Sekitar 30 menit kemudian,saya pindah bus ke N 11. Sekitar 25 menit kemudian, bus sudah tiba di CDG. Saya lihat bangunan Arc de Triomphe megah berdiri di seberang.

Penulis di depan monumen Arc deTriomphe Paris yang memiliki ketinggian 50 meter dan terbesar kedua/photo:pribadi.

Saya segera turun bus. Tanpa buang waktu, saya segera memotret Arc de Triomphe. Kebetulan masih pagi dan cuaca bagus. Bila jelang sore, Paris selalu hujan gerimis. Saya juga meminta touris lain untuk memotret saya. Pokoknya pagi itu saya puas-puaskan memotret Arc de Triomphe. Ini bisa jadi pengalaman hidup yang langka.

Sekitar pukul 10.00, saya sudah puas memotret Arc de Triomphe. Bangunannya megah terbuat dari batu  putih. Pahatan patung dan relief indah sekali. Dikerjakan secara serius. Di bagian dalam, ada api abadi–yang di bawahnya dikuburkan pahlawan Perancis.

Setelah itu, saya balik ke  halte bus untuk mencari bus stasiun kereta Paris Est HGV. Bus itu route no.39. Tak lama menunggu, bus N39 sudah tiba. Saya segera naik bus menuju ke stasiun kereta. Sekitar 30 menit, bus tiba di depan stasiun kereta Paris Est, HGV. Saya segera turun. Tapi sebelum masuk stasiun, saya belanja tas besar dulu untuk membawa buku yang saya beli dari FBF. Tas barang yang murah saja. Di Paris juga ada tas murah.

Setelah itu saya mencari makan pagi. Saya mampir di sebuah coffee. Ternyata di Paris, makan paginya memakai roti Croissant dan secangkir kopi. Saya memesannya. Setelah makan pagi, saya masuk ke stasiun. Ketika masuk stasiun, jam keberangkatan kereta menuju ke Frankfurt masih sekitar 1 jam lagi.

Saya keliling sebentar di stasiun Paris EST. Sekilas tas dan jam tangan branded cukup mahal juga di mall ini. Tak lama kemudian, kereta api cepat Perancis, SCNF tiba di stasiun. Bodynya bercat biru laut dan kepalanya mengecurut seperti peluru. Saya segera naik dan sebentar kemudian kereta api meluncur  balik ke Touris Hotel, tempat saya menginap di Frankfurt, Jerman.

Apa Keunikan Arc de Triomphe?

Monumen Arc of Titus dengan tinggi 35 meter yang menginspirasi Napoleon I membangun Arc de Triomphe/photo:www.dreaminparis.com

Dikutip dari www.dreamsinparis.com, Arc de Triomphe adalah salah satu landmark paling ikonik di Paris, Perancis.  Setiap tahun, lebih dari 1,5 juta wisatawan dari seluruh dunia berduyun-duyun ke Paris untuk mengunjunginya.  Arc de Triomphe benar-benar merupakan simbol kekuatan dan ketahanan Perancis. Saat ini monumen kemenangan ini bisa dibilang salah satu monumen militer paling terkenal di dunia.

Desain Arc de Triomphe tidak sepenuhnya asli. Itu karena mencontoh  monumen Arch of Titus, struktur Romawi kuno yang dibangun untuk menghormati kaisar Romawi terkenal, Titus. Bukan rahasia lagi bahwa Napoleon I sangat menghargai Kekaisaran Romawi kuno.  Dia memperoleh inspirasi dari Arch of Titus untuk menbangun Arc de Triomphe.

Tapi Napoleon tetap lah Napoleon. Dia ingin  monumen  kemenangannya menjadi lebih baik dan lebih berkesan. Jadi, Arc de Triomphe dibangun 50 kaki lebih tinggi (15,24 meter) dari Arch of Titus dan memberikan detail yang jauh lebih rumit dibanding Arch of Titus.

Pembangunan monumen Arc de Triomphe memang atas perintah Napoleon I pada 1806. Hanya dua tahun setelah dia menguasai Prancis dan menunjuk dirinya sebagai Kaisar Prancis. Monumen itu dibangun juga untuk memperingati kemenangan Prancis dalam Pertempuran Austerlitz dan berbagai pertempuran besar lainnya termasuk Revolusi Prancis dan Perang Napoleon.

Monumen Arc of Thriump di Pyongyang, Korea Utara yang diresmikan pada 1922 dan, terbesar pertama/photo:www.dreaminparis.com

Arc de Triomphe dibangun juga untuk memperingati  tentara Prancis yang tak terkalahkan. Konstruksi monumen dimulai pada ulang tahun Napoleon ke-37  yakni pada 15 Agustus 1806 dan baru selesai pembangunanya 30 tahun kemudian tepatnya pada  29 Juli 1836.  Bahkan, Napoleon I dan Jean Chalgrin,  arsiteknya,  tidak sempat melihatnya selesai.

Diyakini bahwa pembangunannya memakan waktu lama karena Napoleon dan Chalgrin terlalu ambisius dengan rencananya. Monumen itu  sangat besar sehingga butuh lebih dari dua tahun untuk pembangunan pondasinya. Selanjutnya, konstruksi dihentikan pada 1814, tepat setelah Napoleon turun tahta. Proyek tersebut baru dilanjutkan pada  1823 oleh Raja Louis XVIII setelah monarki dipulihkan.

Arc de Triomphe terletak di tengah alun-alun yakni Place Charles de Gaulle. Secara historis, alun-alun ini disebut Place de l’Étoile (persegi bintang) karena titik pertemuan dua belas jalan lurus yang bertemu dan membentuk bentuk bintang dengan pusat monumen Arc de Triomphe.

Monumen Arc de Triomphe pusat bertemunya 12 jalan lurus sehingga membentuk bintang/photo:www.dreaminparis.com

Monumen ini dibangun untuk menghormati tentara Perancis. Buktinya, , pilar-pilarnya melambangkan kemenangan penting Perancis. Yang pertama disebut Keberangkatan Relawan 1792 atau Le Départ de 1792 atau La Marseillaise yang memperingati pemberontakan  pada 10 Agustus 1792.

Berikutnya adalah Kemenangan 1810 atau Le Triomphe de 1810, yang mewakili Perjanjian Schönbrunn. Pilar ketiga dan keempat diberi nama Perlawanan atau La Résistance de 1814 dan Perdamaian atau La Paix de 1815. Perlawanan memperingati perlawanan Perancis selama Perang Koalisi Keenam, sementara Perdamaian merayakan Perjanjian Paris pada tahun 1815.

Monumen ini juga memiliki 660 nama tentara dan jenderal yang berperang dalam berbagai perang selama Revolusi Perancis, Kekaisaran Perancis I dan perang terkemuka lainnya. Nama-nama ini dapat ditemukan di keempat pilar.

Api abadi di salah satu pilar Arc de Triomphe untuk memperingati para pahlawan Perancis. Di bawah monumen di salah jalan ke pilar terkubur seorang pahlawan tak dikenal yang gugur pada World War I/photo:www.dreaminparis.com

Seorang prajurit Perancis pada Perang Dunia I yang tidak dikenal dimakamkan di pintu masuk monumen.  Api abadi menyala di depan makam untuk melambangkan penghargaan abadi Perancis untuknya dan pasukan Prancis yang kehilangan nyawa.

Ide api abadi dimotori oleh Gabriel Boissy, seorang jurnalis dan penyair. Api ini telah menyala tanpa henti sejak tahun 1923. Api abadi di monumen ini  mengilhami Ibu Negara Jacqueline Kennedy (yang pernah mengunjunginya sebelumnya) untuk membuat tugu peringatan serupa di Pemakaman Arlington Virginia untuk menghormati mantan Presiden John F. Kennedy yang telah dibunuh.

Dua presiden Perancis nyaris terbunuh di sekitar monumen ini. Mantan Presiden Prancis, Charles De Gaulle  hampir kehilangan nyawanya setelah Paris dibebaskan pada 1944. Prosesi pawainya mengelilingi Arc de Triomphe ketika beberapa penembak jitu Jerman mulai menembaki dia dan orang banyak.

Kemudian pada  2002, Jacques Chirac juga lolos dari upaya pembunuhan di Arc de Triomphe. Dia berbicara kepada pasukan pada awal parade Hari Bastille ketika sebuah peluru ditembakkan ke arahnya. Untungnya, kedua pria ini selamat dari serangan itu.

Untuk mencapai dek observasinya, monumen dilengkapi 284 anak tangga atau naik lift ke aula museum, lalu menaiki 40 anak tangga yang tersisa. Arc de Triomphe memiliki berat lebih dari 100.000 ton. Tingginya 50 meter (164 kaki).

Monumen kemenangan, Arc de Triomphe, Paris ternyata terbesar kedua. Karena pada 1922, berdiri  Arch of Triumph di Pyongyang, Korea Utara. Monumen itu dibangun oleh Kim Il-Sung, presiden Korea Utara saat itu Tapi tetap pembangunan monumen itu terinspirasi oleh Arc de Triomphe asli di Paris.

Perbandingan dengan Arc of SLG

Dilihat dari tingginya, Arc of SLG Kediri bisa jadi monumen terbesar keempat. Pertama monumen di Pyonyang, lebih dari 50 meter, kedua, Arc de Triomphe 50 meter, dan ketiga, Arc of Titus, 35 meter/photo:pribadi.

Ketika saya berada di monumen Arc of SLG Kediri, kemiripannya sekitar 50 persen dibanding Arc De Triomphe, Paris. Karena, monumen Arc of  SLG dibangun memburu ikon tapi detail dan visi pembangunannya kurang matang.

Seharusnya monumen Arc of SLG dibangun untuk mengenang sejarah Kediri mulai diawali era kerajaan, salah satunya Kerajaan Jaya Baya sampai era modern.  Atau fokus mengenang era Kerajaan Kediri. Setiap tahapan sejarah bisa direliefkan di setiap pilar. Tentu dengan penggarapan relief atau patung yang matang. Bandingkan dengan relief atau patung di Arc De Triomphe.

Relief di pilar di Arc of SLG  sepertinya temanya bebas. Ada relief bergambar ponakawan. Ada relief era industri.  Bagian puncak juga tidak ada ukir atau relief hanya flat.  Karena memburu waktu sebelum masa jabatan bupati selesai, monumen harus selesai. Sehingga pembanguannya selesai 3 tahun, Bandingkan dengan Arch de Triomphe, Paris penyelesaiannya butuh 30 tahun.

Arc of SLG Terbesar Keempat?

Meski demikian, penulis sangat menghargai berdiri monumen. Karena bisa dikatakan monumen Arc of SLG ini di Kediri  terbesar keempat bila dicek di tinggi monumen sesuai big data media sosial.

Monumen Arc di Pyongyang, jelas terbesar pertama. Tingginya tentu melebihi monumen di Paris-yang 50 meter.  Kedua, Arc De Triomphe, Paris,  tinggi 50 meter. dan Arc The Titus tingginya sekitar 35 meter,  dan Arc of SLG tingginya 25 meter.  Tulisan ini hanya mengawali siapa tahu ada yang memperkuat dan menambahkannya. Semoga bermanfaat.(*)

*Penulis adalah wartawan sertifikasi utama, PWI-Dewan Pers