Mandi di Sungai, Tiga Siswa SMPN 5 Mati Tenggelam

775
Tim SAR dan Taifib Marinir melakukan penyisiran sejak pagi.
Korban M. Nuh. Achsan alias Aan yang ditemukan kali pertama.
Satu jam setelah kejadian, warga memadati lokasi.
Semalam, Tim SAR melakukan penyisiran dua korban yang belum ditemukan.

Satu Sudah Ditemukan

SMPN 5 Sidoarjo, Jalan Untung Surapati No.24, Sidoklumpuk, Sidoarjo berduka. Tiga siswanya kelas 7 mati tenggelam ketika berenang di Sungai Pucang, Rabu (12/2), sektar pukul 15.00

Para korban adalah Akhmad Dafaldi Baihaqi kls 7/7, warga Jalan Kartini Gang 2, M. Ruli.Kurniawan klas 7/6, warga Jalan Yos Sudarso Gang 5. dan M.Nuh Achsan klas 7/6, warga Jalan Jenggolo 2/ 110 RT 6 RW 2, Sidoarjo.

Kronologis kejadian, sekitar pukul 14.00, Sidoarjo diguyur hujan deras. Di kawasan Perumahan Kahuripan banyak pohon tumbang. Jarak pandang di tol Sidoarjo ke arah Waru hanya dua meter. Jadi saat itu permukaan air Sungai Pucang tinggi.

Ketika hujan ini, ternyata enam anak kelas 7 termasuk tiga korban berniat mandi di sungai. Mereka sudah merencanakan sebelumnya. Mandi di sungai ini kemungkinan sudah biasa dilakukan sebelumnya.

Jadi selepas pulang sekolah, mereka langsung ke rumah salah satu korban bernama Ruli. Kebetulan rumahnya di tepi sisi selatan sungai yang lebarnya sekitar 10 meter ini.

Ny Jumari Londo, seorang ibu korban Dafaldi, mengakui anaknya tidak pamit kalau pergi bermain ke rumah temannya “Dia tidak pamit. Ya masih pakai seragam sekolah langsung ke temannya itu. Ini tidak seperti biasanya. Dia biasanya pamit bila ke rumah temannya, ” ujarnya sambil menangis.

Maka ketika hujan sudah reda, enam anak itu berniat mandi. Dua korban Difaldi dan Ruli segera melepas sepatunya dan terjun ke sungai. Tepatnya di timur jembatan belakang toko Indah Bordir. Mereka berdua awalnya berada di tepian.

Saat itu, mereka melihat ada sterefoam mengapung tak jauh darinya yakni dari arah barat ke timur.

Entah siapa yang memulai, mereka berniat berlomba berenang mengambil sterefoam tersebut untuk pelampung. Mereka pub keroyokan menggapainya. Tapi apes nasibnya. Arus sungai pucang sangat deras. Mereka tidak bisa menggapai sterefoam malah terseret arus sungai. Dan mereka juga belum mahir berenang. Mereka minta tolong.

Melihat itu, korban Achsan atau Aan yang pandai berenang segera menceburkan diri untuk menolong dua temannya tadi. Tapi apes juga nasibnya. Dia ikutan tenggelam.

Tiga temannya di permukaan panik. Mereka berusaha mencari bambu panjang. Tapi ketika didapatkannya, tiga temannya sudah tenggelam ditelan sungai.

Tentu saja kabar ini menggemparkan warga setempat. Meski terlambat, warga segera lapor ke Polsekta Sidoarjo. Polisi segera menghubungi Tim SAR.

Tim SAR segera menyisir sungai. Mulai dari barat dekat jalan raya sampai ke timur di jembatan dekat makam Desa Manyar.

Sekitar pukul 19.00, pencarian belum membuahkan hasil. Tak hanya Tim SAR, warga setempat juga mencari korban. Mereka bahu membahu.

Pukul 20.00, Tim Sar istirahat. Tim warga turun menyisir mulai dari barat dekat jalan raya ke timur.

Sekitar pukul 20.30, tim warga menemukan seorang korban sekitar 400 meter sisi timur jembatan. Korban ditemukan di tepian sisi selatan sungai. Posisi tertelungkup. Saat itu, seorang anggota tim mencoba menginjak kakinya ke dasar sungai. Tiba tiba kakinya tersandung sesuatu. Setelah dicek, ternyata dia tersandung badan korban yang sudah meninggal. Tim segera mengangkat korban dari dalam sungai dan diusung ke tepian. Korban ternyata masih memakai seragam batik sekolah warna hijau. Di dadanya masih ada label nama tertulis Muh. Nur Achsan. Korban segera dievakuasi ke kamar mayat RSUD Sidoarjo.

Sekitar pukul 2100, Tim Sar turun lagi dengan dipimpin kapolsekta Sidoarjo. Dan, pukul 22.00, Tim SAR kekuatan penuh menyisir sungai mencari dua korban.

Satu perahu karet diturunkan dan berputar putar di sungai untuk membuat gelombang. Berharap korban di dasar sungai bisa mengapung ke permukaan. Sampai pukul 22 30, dua korban belum juga ditemukan.

Sampai pukul 22.30, Kepala Sekolah SMPN 5 Sidoarjo, Latifah dan beberapa guru masih berada di lokasi kejadian. Latifah terlihat kedua matanya sembab. “Saya sangat shock pak. Karena sebelumnya tidak pernah kejadian spti ini, ” ujarnya. Dia dan beberapa guru masih memakai seragam kerja, atasan putih dan bawahan hitam.

Terlihat juga Sekretaris Dinas Pendidikan Sidoarjo, Dr Tirto dan Kabid SMP Rudianto. Semoga hari ini dua korban bisa ditemukan. (ruf)